|
Berita Umum
|
|
Oleh Erlinda Rakhawati
|
|
Senin, 30 Agustus 2010 04:28 |

Ekstase
Oleh : Salim A Fillah
Sekiranya ku menjadi Muhammad Takkan sudi ku beranjak ke bumi Setelah sampai di dekat 'Arsyi -'Abdul Quddus, Sufi Ganggoh-
Buraq namanya. Maka ia serupa barq, kilat yang melesat dengan kecepatan cahaya. Malam itu diiring Jibril, dibawanya seorang Rasul mulia ke Masjidil Aqsha. Khadijah, isteri setia, lambang cinta penuh pengorbanan itu telah tiada. Demikian juga Abu Thalib, sang pelindung yang penuh kasih meski tetap enggan beriman. Ia sudah meninggal. Rasul itu berduka. Ia merasa sebatang kara. Ia merasa sendiri menghadapi gelombang pendustaan, penyiksaan, dan penentangan terhadap seruan sucinya yang kian meningkat seiring bergantinya hari. Ia merasa sepi. Maka Allah hendak menguatkannya. Allah memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda kuasaNya.
Buraq namanya. Ia diikat di pintu Masjid Al Aqsha ketika seluruh Nabi dan Rasul berhimpun di sana. Mereka shalat. Dan penumpangnya itu kini mengimami mereka semua. Tetapi dari sini Sang Nabi berangkat untuk perjalanan yang menyejarah. Disertai Jibril ia naik ke langit, memasuki lapis demi lapis. Bertemu Adam, Yahya serta ’Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Lalu terus ke Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan naik lagi menghadap Allah hingga jaraknya kurang dari dua ujung busur. Allah membuka tabirNya..
Allah.. Allah.. Jika melihat Yusuf yang tampan sudah membuat jari para wanita teriris mati rasa, apa gerangan rasa melihat Sang Pencipta yang Maha Indah? Atau katakan padaku shahabat, apa yang kau rasakan saat melihat Ka’bah yang mulia untuk pertama kalinya? Ya, sebuah ekstase. Kita haru. Kita syahdu. Air mata menitik. Raga terasa ringan. Jiwa kita penuh. Mulut kita ternganga. Maka apa kira-kira yang dirasakan Muhammad, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam ketika ia mi’raj bertemu Rabbnya? Kesyahduan. Keterpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan ruhani. Kelegaan jiwa. Tiada tara. Tiada tara. Tiada tara.
Demi Allah, alangkah indahnya, betapa nikmatnya..
Maka ada benarnya Sufi Ganggoh itu. Di saat mengalami puncak kenikmatan ruhani itu, tentu ada goda untuk bertahan lama-lama di sana. Kalau bisa, kita ingin menikmatinya selamanya. Atau setidaknya mengulanginya. Lagi dan lagi. Kesyahduan yang tak terlukiskan, ruhani yang terasa penuh, berkecipak, mengalun. Jiwa yang terpana bagaikan titik air menyatu dengan samudera, kedirian kita hilang lenyap ditelan kemuliaan dan keagungan Ilahi. Kita ingin mereguknya, menyesapnya, lalu rebah, dipeluk, direngkuh, dan menyandarkan hati di situ saja. Selama-lamanya.
|
|
|
Nuzulul Qur’an, Adat atau Tanggung Jawab? |
|
Berita Umum
|
|
Oleh Ina Sholihah Widiati
|
|
Minggu, 29 Agustus 2010 00:33 |
|

Sebenarnya masih ada beda pendapat tentang kapan waktu pertama kali Al-Qur’an diturunkan. Ada tiga pendapat mengenai hal ini. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu ada pada bulan Rabiul Awal. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu pada bulan Rajab. Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu pada bulan Ramadhan. Tapi para ulama menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an ada pada bulan Ramadhan karena Allah SWT berfirman yang artinya : “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” (QS. Al-Baqarah: 185)
Maka dari itu, tidak heran jika sampai sekarang kita masih melihat masyarakat yang merayakan Nuzulul Qur’an. Biasanya pada tanggal 17 Ramadhan hingga memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Peringatan terhadap turunnya Al Qur’an diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, nasyid dan lainnya. Dan tidak jarang pula yang memperingatinya dengan mengadakan pesta makan-makan.
Sehingga, biasanya dibentuk panitia khusus untuk memperingati Nuzulul Qur’an ini. Selama Ramadhan, hari H inilah yang ditunggu-tunggu. Hari demi hari mempersiapkan konsep acara dengan matang hingga ibadah pun menjadi yang nomor dua. Bagaimana tidak, panitia nggak mau ambil resiko acara peringatan Nuzulul Qur’an yang menghabiskan dana yang tidak sedikit ini kacau. Apalagi acara peringatan ini menghadirkan ustad dan grup qasidah yang cukup ternama yang juga dihadiri tamu-tamu dari desa tetangga.
|
|
Semangat Tempur, Puasa Jangan Tidur |
|
Berita Umum
|
|
Oleh Mukhti Nuryani
|
|
Minggu, 22 Agustus 2010 00:02 |
|

Puasa selalu identik dengan rasa malas untuk melakukan sesuatu. Orang yang berpuasa cenderung mengurangi aktivitas kesehariannya. “Tidur itu ibadah” , mungkin ungkapan yang menjadi pedoman mengapa umat muslim yang berpuasa lebih memilih banyak nganggur dan banyak tidur di bulan Ramadhan.
17 Agustus 1945, saat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, saat itu bulan Ramadhan. Sama seperti tahun ini. Jika pada tahun 1945, pahlawan proklamasi tak gentar berjuang demi meraih kemerdekaan yang didambakan seluruh masyarakat Indonesia, tak seharusnya tahun ini, 65 tahun setelah kemerdekaan, semangat itu luntur, bahkan berganti dengan semangat menganggur dan semangat memperbanyak tidur.
Resiko berpuasa adalah rasa haus dan lapar. Orang cenderung meminimalkan resiko ini dengan tidur dan bermalas-malasan. Tidak ada yang salah dengan tidur. Tidur di bulan Ramadhan dalam keadaan berpuasa memang bernilai ibadah. Bukan berarti ‘tidur’ ini berhak merampas hak kegiatan-kegiatan lain yang bernilai ibadah untuk ditunaikan. Bukan berarti kita bisa ‘bertidur ria’ selama berjam-jam tanpa melakukan sesuatu. Sia-sialah bulan Ramadhan penuh berkah ini jika ‘demam tidur’ ini merampas sebagian besar waktu kita. “Capek bu, Pak!”, umpama didhawuhi orang tua untuk melakukan sesuatu yang menguras tenaga, kalimat itu yang diucapkan sebagai wujud penolakan terhadap rasa haus dan lapar.
|
|
Semangat Hari Pertama, Masjid Penuh Semua |
|
Berita Umum
|
|
Oleh Mukhti Nuryani
|
|
Senin, 16 Agustus 2010 02:23 |
|

Malam pertama ketika bulan Ramadhan tiba, masyarakat desa maupun kota begitu bersemangat menyambutnya. Kegiatan pertama yang menjadi rutinitas saat bulan Ramadhan adalah sholat tarawih berjamaah di masjid daerah masing-masing. Berbondong-bondong masyarakat muslim menuju masjid terdekat, menyemarakkan suasana ‘tarawih perdana’ di masjid tercinta. Dari masjid sampai mushola, semua terisi umat muslim yang ingin menunaikan ibadah sholat tarawih. Masjid-masjid yang tidak begitu besar bahkan tak kuat menampung jumlah umat muslim yang ingin berjamaah tarawih. Sebagian terpaksa menggelar tikar di halaman masjid demi memenuhi kuota jamaah. Sungguh luar biasa…
Fenomena ‘masjid membludak’ ini lebih sering terjadi di daerah pedesaan. Terutama desa-desa yang umat muslimnya banyak, sedangkan masjidnya sempit. Hari pertama Ramadhan memang hari yang istimewa. Hari itu umat muslim berbahagia, berhasil mencapai Ramadhan tahun ini setelah 1 tahun menunggu. Di malam Ramadhan yang penuh berkah, masyarakat muslim tumpah ruah demi menggapai nikmat beribadah. Indahnya berjamaah di bulan penuh berkah.
|
|
Berita Umum
|
|
Oleh admin
|
|
Kamis, 12 Agustus 2010 02:52 |

Oleh : Salim A Fillah
Mempercayai yang terbaik dalam diri seseorang Akan menarik keluar yang terbaik dari mereka
Berbagi senyum kecil dan pujian sederhana Mungkin saja mengalirkan ruh baru pada jiwa yang nyaris putus asa Atau membuat sekeping hati kembali percaya Bahwa dia berhak dan layak untuk berbuat baik
***
Lelaki itu menyipitkan mata diterjang terik. Kakinya tersaruk seok dalam sengatan pasir. Dia datang dari jauh memikul beban hati yang memayahkan. Perjalanannya melelahkan. Tapi biara yang ditujunya tak jauh lagi. Jalan agak mendaki kini, tapi sekuncup harap telah bersemi di hati.
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 Berikutnya > Akhir >>
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |