|
Oleh Yuni Ardita Sari Dewi
|
|
Senin, 30 Agustus 2010 05:39 |
|

Ada beberapa adab I’tikaf yang harus diperhatikan dan berusaha untuk melaksanakannya. Diantara adab-adab tersebut adalah:
Pertama: Menghadirkan niat yang sholih, dan mengharap ganjaran dari Allah SWT.
Kedua: Merasakan hikmah dari i’tikaf, yaitu ia berputus sementara dari segala keduniaan untuk beribadah.
Ketiga: Seorang yang i’tikaf tidak keluar dari masjid, kecuali hanya untuk memenuhi hajat yang mesti ia laksanakan.
Keempat: Tetap menjaga amaliyah ibadah pagi dan sore, seperti zikir pagi dan sore, sholat sunat dhuha, sunat rawatib, sholat qiyamullail, sholat sunat wudhu, zikir setelah sholat dan juga menjawab adzan.
Kelima: Berupaya sungguh-sungguh untuk dapat bangun sebelum waktu sholat dengan waktu yang cukup untuk mempersiapkan sholat, sehingga dapat melaksanakan sholat lima waktu dengan khusyuk dan tenang, bukan justru malah terlambat, apalagi ia sudah beri’tikaf di masjid.
|
|
|
Menghidupkan Malam dengan Pasar Malam? |
|
Artikel
|
|
Oleh Ina Sholihah W
|
|
Senin, 30 Agustus 2010 04:52 |
|

Sepuluh hari lagi tidak terasa Lebaran akan segera hadir kembali. Orang-orang mulai sibuk mempersiapkan segalanya sesuai kepentingan masing-masing. Dunia seakan telah terbalik, malam jadi siang dan siang jadi malam. Itu semua dilakukan demi mengisi sepuluh malam terakhir Ramadhan. Dalam hal ini ada dua golongan yang sibuk selama sepuluh hari terakhir Ramadhan ini.
Golongan pertama, yakni orang-orang yang sibuk mempersiapkan jiwa dan raga untuk mengikuti I’tikaf di masjid. Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta alam semesta ini. Mereka mengisi malam dengan memperbanyak ibadah seperti berdzikir, tilawah dan sholat. Mereka yang mencari cinta Allah akan lebih bersemangat lagi meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah mereka karena dalam sepuluh hari terakhir inilah salah satu malamnya adalah Lailatul Qodar.
Golongan kedua, yakni orang yang sibuk mempersiapkan fisik dan kantong untuk ikut meramaikan pasar malam. Di beberapa daerah, pasar malam ini rutin diadakan sebelum dan sesudah lebaran guna meramaikan Ramadhan serta Lebaran. Tentu saja, mereka tidak ingin ketinggalan tetangga serta teman-teman mereka yang hampir tiap malam nongkrong di pasar malam untuk cuci mata dan kantong. Mereka tidak ingin disebut ‘nggak gaul’ hanya karena tidak ikut meramaikan pasar malam ini. Mereka juga tidak ingin disebut ‘kantong kering’ hanya karena tidak bisa membeli pernak-pernik di pasar malam. Hingga akhirnya mereka rela meninggalkan sholat tarawih yang dua puluh malam sebelumnya rutin mereka lakukan di masjid. Bahkan kini mereka telah menutup Al-Qur’an mereka yang hampir khatam dan tidak diteruskan lagi bertilawah karena siangnya mereka cukup sibuk mempersiapkan parcel lebaran dan hunting baju baru sedang malamnya mereka sibuk bermain-main di pasar malam apalagi ditemani oleh keluarga atau pasangan mereka. Ditambah lagi, jasmani dan rohani sudah cukup ‘capek’ karena dua puluh hari sebelumnya sangat bersemangat dalam berpuasa dan beribadah. Maka dari itu, pasar dadakan ini sangat menggiurkan dan menggairahkan mereka untuk berefresing setelah seharian berpuasa. Siapa tahu juga, di pasar malam mereka menemukan baju, sepatu, tas, atau apapun yang bisa dipakai saat lebaran nanti.
Memang, sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah malam yang hidup. Malam dimana hampir semua umat Islam menghidupkan malam ini dengan kegiatan masing-masing. Nah, kalau Anda, termasuk menghidupkan malam dengan I’tikaf atau menghidupkan malam dengan pasar malam?
|
|
Keajaiban Besi dalam Al-Quran |
|
Artikel
|
|
Oleh Ina Sholihah
|
|
Minggu, 29 Agustus 2010 00:17 |
|
Bilangan prima dalam matematika diyakini merupakan salah satu misteri alam semesta, karena hingga era komputer sekarang ini pun, ia banyak dimanfaatkan sebagai sistem kodetifikasi (pengkodean, penyandian) berbagai hal yang penting dan rahasia. Di alam semesta, ia "diduga" menjadi bahasa universal yang dapat dipahami oleh semua makhluk berkecerdasan tinggi dan dipakai sebagai komunikasi dasar antar mereka. Bahkan sejak dahulu, sebagian ilmuwan meyakini adanya hubungan erat bilangan prima dengan desain kosmos.
Berdasarkan kajian mutakhir atas al-Qur'an, ditemukan bahwa Sang Pencipta al-Qur'an dan Alam Semesta menjaga dan memelihara Kitab Mulia ini, antara lain, dengan sistem kodetifikasi berbasis bilangan prima. Bilangan prima dengan pelbagai operasinya, yang dalam sains diyakini oleh ilmuwan dan matematikawan sebagai kodetifikasi desain alam semesta, ternyata juga digunakan oleh al-Qur'an, untuk menjaga keterpeliharaannya. Peletakan Surat al-Hadid (Surat Besi, surat ke-57) dalam al-Qur'an ternyata bersesuaian dengan letak unsur besi dalam tabel periodik kimia.
|
|
|
Kisah Kompilasi Al-Qur’an |
|
Oleh Erlinda Rakhmawati
|
|
Sabtu, 28 Agustus 2010 23:50 |
Setelah diangkat menjadi Khalifah, Abu Bakar menunjuk Khalid bin Walid untuk memimpin sebuah pasukan yang terdiri dari sekian banyak sahabat untuk menggempur Musailamah Al-Kadzdzab. Pasukan tersebut menyerbu dengan gigih hingga berhasil menghancurkan kekuatan musuh dan membunuh Musailamah. Akan tetapi, pertempuran tersebut merenggut nyawa sekian banyak para sahabat yang hafal Al-Quran. Sebuah riwayat mengungkapkan bahwa jumlah mereka mencapai 700 orang, bahkan ada pula yang mengatakan lebih dari itu. Mereka semua gugur di medan pertempuran Yamamah tersebut. Saat itulah muncul gagasan menghimpun Al-Qur’an, sebelum para penghafal lainnya gugur dalam pertempuran lain.
Zaid bin Tsabit berkata, “Setelah peristiwa Perang Yamamah, Abu Bakar Ash-Shiddiq memanggilku. Ketika sampai di tempatku, aku melihat Umar juga hadir di sana. Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, ‘Sesungguhnya Umar menemuiku dan berkata kepadaku,’Sesungguhnya banyak sekali para penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam Perang Yamamah. Aku khawatir akan senakin banyak lagi yang gugur dalam perang-perang berikutnya. Akibatnya, akan banyak bagian Al-Qur’an yang hilang bersama meninggalnya mereka. Untuk itu, aku mengusulkan agar engkau membuat tim untuk menghimpun Al-Qur’an.
Abu Bakar melanjutkan, ‘Aku membantah usulan Umar, ‘Bagaimana mungkin kita melakukan suatu perkara yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah?’ Umar berkeras,’Demi Allah, ini lebih baik,’ Umar terus mendesakku untuk melaksanakan usulan tersebut hingga Allah SWT membuka hatiku dan menerimanya. Aku sependapat dengan Umar,”
|
|
KEHARUSAN MENAHAN HAWA NAFSU SAAT BERPUASA |
|
Artikel
|
|
Oleh Septi RIanto
|
|
Sabtu, 21 Agustus 2010 23:49 |
|
Di Bulan Ramadhan ini banyak godaan serta rintangan yang tentu akan kita hadapi. Salah satu godaan yang paling berat adalah menjaga hawa nafsu. Di dalam al-Quran, hawa nafsu sering diartikan segala sesuatu yang tercela.
Puasa merupakan hal yang dicintai Allah. Sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Setiap amalan anak Adam akan dilipat gandakan pahala satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah berkata: ‘Kecuali puasa maka Aku yg akan membalas orang yg menjalankan karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsu dan makan karena Aku’.”
Sungguh beruntung kita masih dapat merasakan bulan Ramadhan, Bulan yang penuh rahmat serta pahala. Sesuai dalam hadis di atas bahwa sesungguhnya amalan serta ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan serta Allah sendirilah yang akan memberi balasan atas puasa yang dikerjakan. Namun dalam hal ini kita harus berjuang dengan keras untuk mendapatkan puasa yang benar-benar puasa, Yaitu kita harus dapat menjaga hawa nafsu serta perbuatan kita.
|
|
|
|
|
<< Mulai < Sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Berikutnya > Akhir >>
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |