AMMAR BIN YASIR : SEORANG TOKOH PENGHUNI SURGA
Siroh
Oleh Rian   
Selasa, 27 Juli 2010 06:11


      Seandainya ada orang yang dilahirkan di surga, lalu dibesarkan dalam haribaanya dan jadi dewasa, kemudian dibawa kedunia untuk menjadi hiasan dan nur cahaya, maka ‘Ammar bersama ibunya Sumayyah dan bapaknya Yasir, adalah beberapa orang di antara mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah, “sabar wahai keluarga Yasir, tempat yang telah dijanjikan bagi kalian adalah surga.”
Yasin bin ‘ Amir yakni ayahanda ‘ Ammar, berangkat meninggalkan negerinya guna menemui salah seorang saudaranya. Rupanya ia berkenan dan merasa cocok tinggal di Mekkah. Bermukim lah ia disana dan mengikat perjanjian persahabatan dengan Abu Hudzaifah ibnul Mughinah.

     Abu Hudzaifah mengawinkannya dengan salah seorang sahayanya bernama Sumayyah binti Khayyath, dan dari perkawinan yang penuh berkah ini, kedua suami istri itu dikaruniai seorang putra bernama ‘Ammar.

      Keislaman mereka termasuk dalam golongan yang pertama, sebagai halnya orang shalih yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan sebagai halnya orang sholeh yang termasuk kedalam golongan yang mulai pertama masuk islam, mereka cukup menderita karena siksaan dan kekejaman Quraisy. Orang-orang Quraisy menjalankan siasat terhadap Kaum Muslimin sesuai suasana. Seandainya mereka ini golongan bangsawan dan berpengaruh, mereka hadapi dengan ancaman dan gertakan. Abu Jahal adalah orang yang menggertak dengan ungkapan:
“kamu berani meninggalkan agama nenek moyangmu padahal mereka lebih baik dari padamu ! akan kami uji sampai kemana ketabahanmu, akan kami jatuhkan kehormatanmu dan kami rusak perniagaanmu dan akan kami musnakan harta bendamu”

     Dan sekiranya yang beriman itu dari kalangan penduduk Makkah yang rendah martabatnya dan yang miskin, atau dari golongan budak belian, maka mereka didera dan disulutnya dengan api bernyala.

     Maka keluarga Yasir termasuk dalam golongan yang kedua ini. Dan soal penyiksaan mereka diserahkan kepada Bani Makhzum. Setiap hari Yasir, Sumayyam dan ‘Ammar dibawa ke padang pasir Mekah yang demikian panas, lalu didera dengan berbagai adzap dan siksaan.


Rasulullah setiap hari berkunjung ke tempat disiksanya keluarga Yasir. Pada suatu hari ketika Rasulullah mengunjungi keluarga Yasir, ‘Ammar memanggilnya dan berkata :
“wahai Rasulullah, adzab yang kami derita telah sampai ke puncak”.
Maka seru Rasulullah saw :
“sabarlah wahai Abal Yaqdhan….
“sabarlah wahai keluarga Yasir…
“tempat yang dijanjikan bagi kalian ialah Surga…!”
Pada hari itu, ketika ia telah tak sadarkan diri lagi karena siksaan yang demikian berat, orang-orang itu mengatakan kepada ‘Ammar:
“Pujalah olehmu tuhan-tuhan kami!”,
lalu diajarkan kepadanya kata-kata pujaan itu, sementara ia mengikuti tanpa menyadari apa yang telah diucapkannya.


     Ketika ia siuman sebentar akibat dihentikanya siksaan, tiba-tiba ia sadar akan apa yang telah diucapkanya, maka hilanglah akalnya dan terbayang dimatanya betapa besar dosa yang telah ia lakukan. Suatu dosa besar yang tak dapat ditebus dan diampuni. Dalam siksaan tersebut, hampir saja menghabiskan tenaga dan melenyapkan nyawanya. Tetapi iradat Allah yang maha Agung lagi Maha Tinggi telah memutuskan agar peristiwa yang mengharukan itu mencapai titik kesudahan yang amat luhur.


     Rasulullah menemui sahabatnya itu dan didapatnya ia sedang menangis, maka disapunyalah tangisanya itu dengan tangan beliau seraya berkata:
“Orang-orang kafir itu telah menyiksamu dan menenggelamkanmu sampai kamu mengucapkan begini dan begitu?”
“benar wahai Rasulullah”, ujar ‘Ammar sambil meratap. Maka sabda Rasulullah sambil tersenyum:
“jika mereka memaksamu lagi, tidak apa, ucapkanlah seperti apa yang kamu katakan tadi!”.
Lalu dibacakan Rasulullah kepadanya Ayat mulia yang artinya
“kecuali orang-orang yang dipaksa, sedang hatinya tetap teguh dalam keimanan (Q.S 16 an-Nahl: 106)”
Mulai saat itu, ia mulai tenang dan dera yang menimpa tubuhnya bertubi-tubi tidak terasa sakit lagi. ‘Ammar menghadapi cobaan dan siksaan itu dengan ketabahan luar biasa, hingga pendera-pendera merasa lelah dan menjadi  lemah, dan bertekuk lutut dihadapan tembok keimanan yang maha kukuh.


Mengenai perawakanya para ahli riwayat melukiskanya sebagai berikut:
     Ia adalah seorang yang berbahu tinggi dengan bahunya yang bidang dan matanya yang biru, seorang yang amat pendiam dan tak suka banyak bicara.
     Sungguh telah diterjuninya bersama Rasulullah sebagai gurunya semua perjuangan bersenjata baik, Perang Badar, Uhud, Khandaq, Tabuk. Dan tak kalah Rasulullah telah mendahuluinya ke ar Rafiqul A’la, maka raksasa itu tidak berhenti, tetapi melanjutkan perjuanganya terus menerus.
     Sebelum Rasulullah wafat, Beliau pernah meramalkan mengenai ‘Ammar,
Ketika itu mereka sedang mendirikan rumah dan masjid di Madinah. Maka di tengah khalayak ramai yang sedang hilir mudik itu terlihatlah Ammar bin Yasir sedang mengambil batu besar dari tempat pengambilan. Tiba tiba “Rahmat kurnia Allah” yakni Rasulullah melihatnya dan rasa belas kasih telah membawa beliau mendekatinya, dan setelah berhampiran maka tangan beliau yang penuh berkah itu mengikapaskan debu yang menutupi kepala ‘Ammar, dan bersabdalah dihadapan semua sahabatnya,
“Aduhai Ibnu Sumayyah, ia dibunuh oleh golongan pendurhaka.”
     Ramalan itu diulangi oleh rasulullah sekali lagi. Kemudian bertepatan dengan ambruknya dinding yang diatas ‘Ammar bekerja, hingga sebagian kawanan menyangka bahwa ia tewas yang menyebabkan Rasulullah meratapi kematiannya. Para sahabat terkejut dan menjadi rebut karena itu, tetapi dengan nada menenangkan, Rasulullah menjelaskan
“Tidak, Ammar tidak apa-apa, hanya  nanti ia akan dibunuh oleh golongan pendurhaka.”
‘Ammar mendengar ramalan itu dan meyakini kebenaranya yang disingkapkan oleh Rasul yang utama.
     Maka ramalan itu pun terjadi saat ‘Ammar berusia 93 tahun, ia ikut dalam perang Shiffin, meski umurnya sudah tua, namun semangatnya dahsyat, melebihi orang-orang yang  berusia 30 tahun.
Mereka memerangin Bani umayyah dengan pimpinan Mu’awiyah. Kalau dulu mereka memerangi orang-orang Bani umayyah karana kafir kepada agama dan kafir  kepada Al Qur’an, namun sekarang mereka memerangi karena mereka menyelewengkan agama islam dan menyimpan dari ajaran al-Quranul karim.
     Orang-orang Mu’awiyah mencoba sekuat daya untuk menghindari ‘Ammar, agar mereka tidak menyebabkan kematiannya, tapi ternyata golongan merekalah yang menyebabkan kematiannya dan merekalah yang dimaksud “Golongan pendurhaka”.
Adapun ‘Ammar dipangku oleh imam Ali ke tempat ia mensholatkanya bersama kaum muslim. Lalu dimakamkan dengan pakaiannya. Benar, dengan pakaiannya yang dilumuri oleh darahnya yang bersih suci. Karena tidak satupun kain sutera dan beludru dunia yang layak untuk menjadi kain kafan bagi seorang syahid mulia, seorang suci utama dari tingkatan ‘Ammar.
Sebagaimana sabdah Rasulullah
“surga telah merindukan ‘Ammar..”
     Jika demikian  halnya, maka syurga benar-benar telah merindukan ‘Ammar. Dan jika demikian maka telah lama surga merindukannya, serta kerinduannya tertanggung, menunggu ‘Ammar menyelesaikan kewajibannya dan memenuhi tanggung jawabnya…..
Dan tugas itu telah dilaksanakan dan dipenuhi dengan hati gembira.

Sumber : Khalid, Khalid Muhammad.Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah. 1996. Bandung: CV. Diponegoro

 

Add comment


Security code
Refresh

Berita terbaru

KONTRIBUSI UMAT ISLAM DALAM DUNIA IT
02 September 2010
article thumbnail      Tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi sangat cepat dan mempunyai persaingan yang ketat. Sama halnya dalam dunia internet, kita umat Islam masih sangat terbelakang...
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday122
mod_vvisit_counterYesterday174
mod_vvisit_counterThis week627
mod_vvisit_counterLast week1502
mod_vvisit_counterThis month1432
mod_vvisit_counterLast month6334
mod_vvisit_counterAll days30495

We have: 1 guests online
Today: 08 Sep, 2010