Memahami, Tidak Hanya Menghafalkan
Artikel
Oleh Erlinda   
Selasa, 22 Juni 2010 02:42

 

     Ada banyak metode dalam belajar. Orang dengan kemampuan visual akan lebih suka melihat gambar dan warna-warna, membaca tulisan, serta membayangkan visualisasi suatu pelajaran. Orang audio akan lebih nyaman saat menyerap suatu ilmu dengan mendengarkan suara orang yang bertutur tentang pelajaran. Orang kinestik tentu lebih suka mempraktikan apa-apa yang baru ia dapat. Dan masih banyak metode serta kemampuan lain yang dapat digunakan manusia untuk belajar.

 

     Tapi lebih dari semua itu, bagaimanapun metodenya, ilmu-ilmu tersebut pasti akan lebih berguna ketika kita tidak hanya tahu dan hafal bentuk gambar-gambar dan grafik yang sedang kita pelajari, atau bunyi dari suatu kalimat disuarakan, atau prosedur agar sesuatu dapat dilaksanakan. Kita juga harus dapat memahami apa arti grafik yang sedang kita lihat itu, atau apa arti dari kata-kata yang sedang kita dengar, dan untuk apa praktikum yang sedang kita lakukan.

 

     Dalam Film India “3 idiots”, digambarkan bagaimana metode menghafal tanpa memahami akan memberikan dampak yang tidak hanya buruk dan memalukan bagi dirinya, tapi juga orang lain di sekitarnya.

 

      Richard P Feynmen dalam bukunya yang berjudul “Cerdas Jenaka ala Nobelis Fisika, Petualangan Hidup Richard P Feynman” menyebutkan bahwa alasan negara Brazil tidak memiliki ahli fisika, padahal mereka punya banyak sekali sarjana fisika, adalah karena pelajar-pelajar di sana hanya menghafalkan semuanya, tanpa tahu apa maksud dan artinya.

 

     Di Indonesia, metode seperti ini juga masih dipakai olah mayoritas pelajar dan mahasiswa. Mungkin hal ini juga yang menjadi salah satu alasan Indonesia tidak memiliki banyak penemu dan ahli di berbagai bidang. Walaupun sistem pendidikan telah dirubah menjadi lebih baik, yaitu dengan kurikulum berbasis kompetensi, namun agaknya budaya menghafal tanpa memahami masih dipegang teguh oleh para pendidik dan pelajar di Indonesia.

     Metode menghafal tanpa memahami memang tidak sepenuhnya buruk. Banyak orang yang menggunakan metode ini dapat meraih prestasi dan nilai akademik yang tinggi. Bahkan mereka juga mampu mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang memuaskan.

 

     Akan tetapi, orang-orang dengan metode seperti ini biasanya hanya berorientasi nilai. Mereka hanya memikirkan bagaimana agar ilmu-ilmu yang mereka hafalkan dapat menguntungkan bagi kehidupan pribadi mereka, seperti nilai yang bagus, dan gaji yang tinggi.. Mereka tidak sempat berfikir bagaimana agar ilmu-ilmu yang mereka pelajari dapat mereka kembangkan sehingga bermanfaat bagi banyak orang.

 

     Kita hanya akan selalu menjadi pengikut yang monoton ketika kita menggunakan metode menghafalkan tanpa memahami. Kita hanya akan berjalan di tempat, menunggu seseorang menemukan sesuatu yang baru, lalu kita mengikutinya. Namun ketika kita menjadi seorang yang paham akan apa yang kita pelajari, kita dapat menjadi si Penemu yang ditunggu-tunggu.

 

     Tentu saja semua adalah keputusan kita, metode belajar apa yang akan kita gunakan. Akan tetapi, akankah kita membiarkan bangsa kita tetap begini? Memiliki banyak sekali sarjana tiap tahunnya, tetapi hampir tidak ada kemanfaatan besar yang diberikan pada bangsa, dan dunia.

 

Add comment


Security code
Refresh

Berita terbaru

KONTRIBUSI UMAT ISLAM DALAM DUNIA IT
02 September 2010
article thumbnail      Tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi sangat cepat dan mempunyai persaingan yang ketat. Sama halnya dalam dunia internet, kita umat Islam masih sangat terbelakang...
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday122
mod_vvisit_counterYesterday174
mod_vvisit_counterThis week627
mod_vvisit_counterLast week1502
mod_vvisit_counterThis month1432
mod_vvisit_counterLast month6334
mod_vvisit_counterAll days30495

We have: 1 guests online
Today: 08 Sep, 2010