MiniMagz Garnish 23 | Muslim Peka





Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh


Minimagz Garnish atau Mini Magazine Gerakan Menulis UKI Jashtis merupakan media dari UKI Jashtis untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat kampus STMIK AMIKOM Yogyakarta tentang isu-isu di kalangan kampus, nasional, maupun internasional yang dikemas dari sudut pandang Islam.


Alhamdulillah Minimagz Garnish edisi ke-23 akan terbit di bulan April 2017 dengan tema "Muslim Peka".


Terdapat beberapa konten yang dimuat dalam edisi 23 "Muslim Peka", diantaranya:

- Greeting Editorial
- Berita Kampus

- Berita Nasional

- Berita Internasional

- Tokoh Inspirasi

- Artikel Islam

- Teknologi

- Opini
- Muslimah Corner
- Entertainment
- Jashtis Update



Minimagz Garnish dapat diambil secara gratis pada lokasi berikut:

- Unit 1: Customer Service STMIK AMIKOM Yogyakarta

- Unit 2: Ruang Dosen STMIK AMIKOM Yogyakarta

- Unit 3: Kerumahtanggaan STMIK AMIKOM Yogyakarta

- Unit 4: BAAK STMIK AMIKOM Yogyakarta

- Unit 5: Resource Center STMIK AMIKOM Yogyakarta






Minimagz Garnish 23 versi PDF dapat diunduh pada link berikut:
https://goo.gl/cD3Dc3

Untuk Melihat Edisi-edisi sebelumnya kunjungi site:
garnish.jashtis.org

MANFAAT GERAKAN SHOLAT UNTUK KESEHATAN



1. TAKBIRATUL IHRAM
Manfaat:
Gerakan ini melancarkan aliran darah,

getah bening (limfe) dan kekuatan otot lengan.

Posisi jantung di bawah otak memungkinkan darah mengalir lancar ke seluruh tubuh.

 Saat mengangkat kedua tangan, otot bahu meregang sehingga aliran darah kaya oksigen menjadi lancar. Kemudian kedua tangan didekapkan di depan perut atau dada bagian bawah. Sikap ini menghindarkan dari berbagai gangguan persendian, khususnya pada tubuh bagian atas

2. RUKUK
Manfaat:
 Menjaga kesempurnaan posisi dan fungsi tulang belakang (corpus vertebrae) sebagai penyangga tubuh dan pusat syaraf.

 Posisi jantung sejajar dengan otak, maka aliran darah maksimal pada tubuh bagian tengah.

Tangan yang bertumpu di lutut berfungsi relaksasi bagi otot – otot bahu hingga ke bawah.

Selain itu, rukuk adalah latihan kemih untuk mencegah gangguan prostat.

3. I’TIDAL
Manfaat:

Itidal adalah variasi postur setelah rukuk dan sebelum sujud.

 Gerak berdiri bungkuk berdiri sujud merupakan latihan pencernaan yang baik.

 Organ organ pencernaan di dalam perut mengalami pemijatan dan pelonggaran secara bergantian. Efeknya, pencernaan menjadi lebih lancar.


4. SUJUD
Manfaat:

 Aliran getah bening dipompa ke bagian leher dan ketiak.

Posisi jantung di atas otak menyebabkan darah kaya oksigen bisamengalir maksimal ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang.

Karena itu, lakukan sujud dengan tuma’ninah, jangan tergesa – gesa agar darah mencukupi kapasitasnya di otak. Postur ini juga menghindarkan gangguan wasir.


6. DUDUK
Postur: Duduk ada dua macam, yaitu iftirosy ( tahiyyat awal ) dan tawarruk ( tahiyyat akhir ). Perbedaan terletak pada posisi telapak kaki.

Manfaat:
Saat iftirosy, kita bertumpu pada pangkal paha yang terhubung dengan syaraf nervus Ischiadius.

Posisi ini menghindarkan nyeri pada pangkal paha yang sering menyebabkan penderitanya tak mampu berjalan.

Duduk tawarruk sangat baik bagi pria sebab tumit menekan aliran kandung kemih (urethra),

kelenjar kelamin pria (prostata) dan saluran vas deferens.

Jika dilakukan. dengan benar, postur irfi mencegah impotensi.

Variasi posisi telapak kaki pada iftirosy dan tawarruk menyebabkan seluruh otot tungkai turut meregang dan kemudian relaks kembali.

Gerak dan tekanan harmonis inilah yang menjaga  kelenturan dan kekuatan organ-organ gerak kita.


7. SALAM

Gerakan: Memutar kepala ke kanan dan ke kiri secara maksimal.
Manfaat:
 Relaksasi otot sekitar leher dan kepala menyempurnakan aliran darah di kepala.

Gerakan ini mencegah sakit kepala dan menjaga kekencangan kulit wajah.

Sumber : http://sehatsecaraislam.blogspot.co.id/p/manfaat-gerakan-sholat-untuk-kesehatan.html?m=1

Zainab binti Khuzaimah radhiallahu ‘anha

zainab binti khuzaimah radhiyallahu anhu
Nama lengkapnya adalah, Zainab binti Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah Al-Hilaliyah. Ibundanya bernama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamatsah. Kalau dilihat berdasarkan asal-usul dari keturunannya, Zainab  binti Khuzaimah radhiallahu ‘anha termasuk ke dalam silislah keluarga yang disegani dan dihormati di kalangannya. Tetapi untuk tanggal kelahirannya para ulama tidak mengetahuinya secara pasti, namun ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa ia lahir sebelum tahun ke-13 dari kenabian.[1]


Kenapa Dikenal dengan Ummul Masakin?
Al-Balazary berkata, “Ummul Masakin adalah kun-yah bagi Zainab ra. di masa jahiliyah.” Al-Asqalany berkata, “Zainab memang dipanggil dengan sebutan Ummul Masakin di masa jahiliyah.”[2]
Dalam sebuah riwayat Ath-Thabrany, beliau mengatakan, “Rasulullah saw. menikahi Zainab binti Khuzaimah Al-Hilaliyah ra., atau sering disebut dengan sebutan Ummul Masakin. Dikenal dengan sebutan itu, karena beliau banyak memberi makan orang-orang miskin.[2]
Ibnu Katsir juga berkata, “Zainablah yang sering dikenal dengan sebutan Ummul Masakin. Itu karena beliau banyak bersedekah, dan berbuat baik kepada orang-orang miskin.”[2]

Menikah Dengan Rasulullah
Terdapat beberapa pendapat tentang nama nama suami pertama dan kedua dari  Zainab sebelum dia menikah dengan Rasulullah. Sebagian pendapat mengatakan bahwa suami pertamaZainab adalah Thufail bin Harits bin Abdul Muthalib, yang kemudian menceraikannya. Dia menikah lagi dengan Ubaidah bin Harits, namun dia terbunuh pada Perang Badar atau Perang Uhud. Oleh karena Zainab tidak dapat melahirkan (mandul), Thufail menceraikannya ketika mereka hijrah ke Madinah. Untuk memuliakan Zainab, Ubaidah bin Harits (saudara laki laki Thufail) menikahinya. Sebagaimana yang kita ketahui bhawa Ubaidah bin Harits adalah prajurit penunggang kuda perkasa setelah Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abi Thalib. Mereka bertiga ikut berperang melawan orang orang Quraisy dalam Perang Badar, dan Akhirnya Ubaidah mati Syahid dalam perang tersebut.[3]
Setelah Ubaidah wafat, tidak ada riwayat yang menjelaskan tentang kehidupannya hingga Rasulullah menikahinya. Rasulullah menikahi Zainab karena beliau ingin melindungi dan meringankan beban hidup yang dialaminya. Hati beliau mejadi luluh melihat Zainab hidup menjanda, sementara sejak kecil ia sudah dikenal dengan kelemah-lembutannya kepada orang orang miskin.[3]

Sifat dan Watak Zainab
Zainab binti Khuzaimah mimililki sifat murah hati, kedermawanan dan sifat santunnya kepada orang orang miskin yang ia utamakan ketimbang dirinya sendiri. Sebelum memeluk Islam dia sudah dikenal dengan gelar Ummul Masakin (Ibu orang orang miskin). Gelar tersebut disandangnya sejak masa Jahiliah.
Zainab adalah termasuk kelompok orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan wanita. Yang mendorongnya masuk Islam adalah akal pikirannya yang baik, menolak syirik dan penyembahan berhala dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan jahiliyah.

Kesimpulan
Zainab adalah putri dari Khuzaimah bin Haris bin Abdillah bin Amru bin Abdi Manaf bin Hilal bin Amir bin Sha’shaah Al-Hilaliyah. Ibundanya bernama Hindun binti Auf bin Harits bin Hamatsah. Ia mimililki sifat murah hati, kedermawanan dan sifat santunnya kepada orang orang miskin yang ia utamakan ketimbang dirinya sendiri. Sehingga ia dikenal dengan gelar Ummul Masakin (Ibu orang orang miskin). Gelar tersebut disandangnya sejak masa Jahiliah. Ubaidah bin Harits (saudara laki laki Thufail) menikahinya, namun setelah perang badar Ubaidah meninggal. Setelah itu ia dinikahi oleh rasulullah dan menjadi ummul mukminin.


Sumbe :


4.      http://www.sygmadayainsani.co.id/blog/read/seputar-islam/975/ringkasan-sejarah-zainab-binti-khuzaimah.html


Source-image :
http://scontent.cdninstagram.com/t51.2885-15/s480x480/e35/13267431_283020625372055_227351967_n.jpg?ig_cache_key=MTI1ODI5Mzg5MTA2NTgyOTcwMw%3D%3D.2

Menutup Aurat adalah perintah dari Allah

Kenapa sih harus pake Jilbab ?
Aurat dalam syariah Islam adalah anggota badan yang harus ditutup. Ketika dikatakan aurat perempuan atau wanita' maka maksudnya adalah anggota tubuh wanita yang harus ditutup saat dia di depan laki-laki atau sesama perempuan.
Hijab merupakan peritah dari allah langsung di tujukan kepada wanita – wanita muslimin. Sebagaimana firmannya :
Yang artinya :
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”(QS. an-Nur:31)

Jilbab, apa sih manfaatnya?

Banyak wanita yang menanya-nanyakan hal ini karena ia belum mendapat hidayah untuk mengenakannya. Berikut ada sebuah ayat dalam Kitabullah yang disebut dengan “Ayat Hijab”. Ayat ini sangat bagus sekali untuk direnungkan. Moga kita bisa mendapatkan pelajaran dari ayat tersebut dari para ulama tafsir. Semoga dengan ini Allah membuka hati para wanita yang memang belum mengenakannya dengan sempurna.[1]
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Seperti apa sih ketentuannya ?
·        Batas aurat muka dan telapak lengan (HR. Abu Dawud, no. 3580)
·        Menutup dada (QS an-Nur:31)
·        Longgar tidak transparan (HR. Malik & Muslim)
·        Menutupi mata kaki (HR. Imam Tirmidzi & Nasa'i dari ummu Salamah)

Kesimpulan
Aurat perempuan atau wanita adalah anggota tubuh wanita yang harus ditutup saat dia di depan laki-laki atau sesama perempuan. Allah memerintahkan langsung yang di tujukan kepada wanita dan memeberi manfaat seperti dalam firmannya “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.” (QS. Al Ahzab: 59).
Seorang perempuan memakai hijab harus memenuhi kriteria yaitu : hanya batas muka dan telapak tangan yang terlihat, jilbab menutup dada, longgar dan tidak transparant, dan menutupi mata kaki.

Pertanyaan tambahan dan jawabannya
Kalau pakai Jilbab gak panas?
Jawab :“Enggak, malah karena pakai jilbab kepala dan kulit iyah ga terkena langsung sinar matahari. jadi lebih adem deh. Oh iya, dibanding ngerasain panas atau gerah di dunia buat yang baru berjilbab, coba bandingin panasnya sama panas neraka. hehe.”[2]

Kamu ga ikut aliran-aliran sesat gitu kan?
Jawab :  “Aliran sesat gimana...? -________________- hadeeeh. *tepok jidat* Iyah ga dak ikut aliran apalah itu ataupun ikut partai-partai *lah?*. cukup agama Iyah Islam, Al-Qur'an dan Hadist pedomannya. Nabi Muhammad SAW contohnya. selesai.”[2]

Lulusan Pesantren ya?
Jawab : Enggak. Iyah dari SMIT Siti Hajar trus SMAN 21. gak pernah mengenyam pendidikan pesantren sebelumnya. kalo ada aroma-aroma pesantren mungkin ketularan dari kakaknya iyah yang SMP dan SMA nya di pesantren Ar-Raudathul Hasanah. Hehe[2]

Sumber :
2.      http://www.mahdiyyah.com/2014/09/pertanyaan-yang-sering-ditanyakan.html

source-image :

https://scontent.cdninstagram.com/hphotos-xfa1/t51.2885-15/e15/11377892_1140386372642392_1443414466_n.jpg

Pemilik Pertama Mushaf Al - Qur'an

Ia seorang putri dari Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zainab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un. Ia dilahirkan pada tahun yang sangat terkenal dalam sejarah orang Quraisy, yaitu ketika Rasullullah memindahkan Hajar Aswad ke tempatnya semula setelah Ka’bah dibangun kembali setelah roboh karena banjir. Peristiwa tersebut terjadi pada 3 tahun sebelum kenabian atau 16 tahun sebelum hijrah.

Ia adalah Hafshah binti Umar bin Khaththab, putri seorang laki-laki yang terbaik dan mengetahui hak-hak Allah dan kaum muslimin. Umar bin Khaththab adalah seorang penguasa yang adil dan memiliki hati yang sangat khusyuk. Pernikahan Rasulullah dengan Hafshah merupakan bukti cinta kasih beliau kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin Hudzafah as-Sahami, yang berjihad di jalan Allah, pernah berhijrah ke Habasyah, kemudian ke Madinah, dan gugur dalam Perang Badar. Setelah suami anaknya meninggal, dengan perasaan sedih, Umar menghadap Rasulullah untuk mengabarkan nasib anaknya yang menjanda. Ketika itu Hafshah berusia delapan belas tahun. Mendengar penuturan Umar, Rasulullah memberinya kabar gembira dengan mengatakan bahwa beliau bersedia menikahi Hafshah.[1]

Keutamaan Hafshah
Sayyidah Hafshah r.a. dibesarkan dengan mewarisi sifat ayahnya, Umar bin Khaththab. Dalam soal keberanian, dia berbeda dengan wanita lain, kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas. Aisyah melukiskan bahwa sifat Hafshah sama dengan ayahnya. Kelebihan lain yang dimiliki Hafshah adalah kepandaiannya dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum perempuan.[2]
Hafshah radhiallaahu ‘anha mengisi hidupnya sebagai seorang ahli ibadah dan ta’at kepada Allah, rajin shaum dan juga shalat, satu-satunya orang yang dipercaya untuk menjaga keamanan dari undang-undang umat ini, dan kitabnya yang paling utama yang sebagai Mukjizat yang kekal, sumber hukum yang lurus dan ‘aqidahnya yang utuh.[2]
Pemilik mushaf pertama
Karya besar Hafshah bagi Islam adalah terkumpulnya Al Quran ditangannya. Dialah istri Nabi SAW yang pertama kali menyimpan Al Quran dalam bentuk tulisan pada kulit, tulang, dan pelepah Kurma, hingga kemudian menjadi sebuah Kitab yang sangat agung. Mushaf asli Al Qur`an itu berada dirumah Hafshah hingga dia meninggal.[2]

Pada masa Khalifah Abu Bakar, para penghafal Al-Qur’an banyak yang gugur dalam peperangan Riddah (peperangan melawan kaum murtad). Kondisi seperti itu mendorong Umar bin Khaththab untuk mendesak Abu Bakar agar mengumpulkan Al-Qur’an yang tercecer. Awalnya Abu Bakar merasa khawatir kalau mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu kitab itu merupakan sesuatu yang mengada-ada karena pada zaman Rasul hal itu tidak pernah dilakukan. Akan tetapi, atas desakan Umar, Abu Bakar akhirnya memerintah Hafshah untuk mengumpulkan Al-Qur’an, sekaligus menyimpan dan memeliharanya.[2]

Kesimpulan
Hafshah binti Umar bin Khaththab bin Naf’al bin Abdul-Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurt bin Rajah bin Adi bin Luay dari suku Arab Adawiyah. Ibunya adalah Zainab binti Madh’un bin Hubaib bin Wahab bin Hudzafah, saudara perempuan Utsman bin Madh’un. Ia dilahirkan 3 tahun sebelum kenabian atau 16 tahun sebelum hijrah. Pernikahan Rasulullah dengannya  merupakan bukti cinta kasih beliau kepada mukminah yang telah menjanda setelah ditinggalkan suaminya, Khunais bin Hudzafah as-Sahami, yang berjihad di jalan Allah, pernah berhijrah ke Habasyah, kemudian ke Madinah, dan gugur dalam Perang Badar.

Aisyah melukiskan bahwa sifat Hafshah sama dengan ayahnya, Umar bin Khaththab. Dalam soal keberanian, kepribadiannya kuat dan ucapannya tegas. Ia mempunyai kelebihan dalam membaca dan menulis, padahal ketika itu kemampuan tersebut belum lazim dimiliki oleh kaum perempuan. Karena kelebihananya itu, Abu Bakar memerintah Hafshah untuk mengumpulkan Al-Qur’an(untuk dijadikan mushaf), sekaligus menyimpan dan memeliharanya.

Source-Image:
http://reviewit.pk/wp-content/uploads/2015/05/Untitled11.jpg

Sumber :
2.      http://nabimuhammad.info/hafsah-binti-umar/

Mulai Sekarang, Janganlah Menyingkat Kata-kata Berikut Ini

Ass, SAW, SWT, RA, wr.wb, askm, jzk, askum, mikum???
Wahai saudaraku, wahai saudariku, semalas itukah kita untuk memuliakan Allah dan Rasul-Nya serta para sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa salam?
...
Tidak akan sampai lima menit engkau menulis Shalallahu ‘alaihi wa salam, Subhanahu wa ta’ala, radhiyallahu ‘anhu, radhiyallahu ‘anha atau Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.


Design by Muslim Designer Community

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam telah bersabda:
“Orang yang paling pelit adalah orang yang namaku disebutkan disisinya namun ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad dll)
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“… Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al Ahzab: 56)
Allah memerintahkan kita untuk bershalawat bukan ber es a we.
Lalu apakah engkau mengira Shalallahu ‘alaihi wa salam tidak termasuk shalawat?
Allah juga berfirman:
“Apabila kamu diberi suatu penghormatan. Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya. Atau balaslah penghormatan itu dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (An Nisaa’: 86)
Lantas pantaskah kita menyingkat salam dengan askum, ass, askm atau yang semisalnya? Bukankah salam itu do’a? Lalu apakah do’a layak untuk disingkat-singkat?
Begitupun dengan radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah ridho kepadanya, para shahabat laki-laki), radhiyallahu ‘anha (semoga Allah ridho kepadanya, para shahabiat wanita), radhiyallahu ‘anhum (semoga Allah ridho kepada mereka, para shahabat), rahimahullah (semoga Allah mengasihinya) atau hafizdahullah (semoga Allah menjaganya). Karena ini adalah do’a.
Memang, memang benar itukan cuma tulisan, yang baca juga nggak bakalan bacanya es a we, es we te, er a atau yang semisalnya.
Tapi bukankah Allah memperhitungkan segala sesuatu?
“… Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (An Nisaa’: 86)
Bisa jadi, apa yang kita tulis itu berpahala disisi Allah Azza wa jalla dan menjadi amal kebaikan kita diakhirat kelak.
Maka, jangan malas! Berhentilah untuk menyingkat sesuatu yang tidak pantas untuk disingkat.
Muliakanlah Allah dan Rasul-Nya dengan bukti engkau tidak menyingkatnya lagi.

Open Recruitment Garnish




🎓 Kamu _mahasiswa_?

📝 Suka nulis atau punya hobi di bidang jurnalistik?
Pengen tau bagaimana rasanya menjadi bagian dari team redaksi majalah?
Medinfo UKI Jashtis proundly present "MiniMagz Garnish" edisi *Muslim Peka* 2017
📢 Open Recruitment Team Redaksi Garnish 📢
👉 Div. Staff Redaksi (13 slot)
🎯 Job Description
- Hunting berita, foto, atau data lain yg dibutuhkan sesuai rubrik yang telah ditentukan.
- Menyusun dan menyajikan berita ke dalam bacaan yang ringan dan nyaman dibaca.
👉Div. Sponsorship (6 slot)
🎯 Job Description
- sebagai ujung tombak pengadaan minimagz garnish.
- berperan sbg team fund rising, penggalian dana untuk menunjang proses produksi.
- bertanggung jawab dalam pendistribusian proposal sponsorship.
✍🏻Buat yg pengen cari pengalaman dibidang jurnalistik, atau mau tau serunya dikejar deadline, belajar membangun team work yg solid, cocok banget daftar di staff redaksi.
✍🏻 yang pengen ngerasain serunya jalan2 cari sponsor, belajar komunikasi sama klien, dan melatih kecakapan antar personal, cocok banget daftar di div.sponsorship.
Get this :
👌 Sertifikat
👌 Pengalaman
👌 Ilmu
👌 Pahala Jariyah melalui tulisan2 kalian, jika di niatkan ibadah😊
Syarat pendaftaran :
1. Niatkan ibadah
2. Member UKI JASHTIS
3. Bisa kerja team
Cara daftar :
Ketik :
DAFTAR GARNISH#MEMBER#
✏NAMA LENGKAP
✏ANGKATAN
✏KELAS
✏ORGANISASI YG AKTIF DIIKUTI SEKARANG
Kirim ke cp dibawah.
-------------------------------------------
Time line
📝pendaftaran: 24 januari - 5 feb 2017
📝pengumuman : 6 Februari 2017
📝open forum team redaksi : 7 Februari 2017
📲more info
👤rin (+62 822-4202-6837)
👤Ryan (+62 822-2063-5582)

Kenapa sih kita harus Shalat?





Allah SWT berfirman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dn rukuklah beserta orang-orang yag
rukuk.”(QS. Al-Baqarah: 43)
Shalat adalah rukun Islam kedua setelah syahadat. Shalat merupakan kewajiban bagi umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan.
Rasulullah SAW bersabda: “Shalat itu diwajibkan atas Nabi Muhammad pada malam di-Isra’ kan, sebanyak lima puluh kali. Kemudian dikurangi hingga lima,lalu beliau diseru, ‘Hai Muhammad! Putusan-Ku tidak dapat diubah lagi, dan dengan  shalat lima waktu ini engkau tetap mendapat pahala lima puluh kali.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Tirmidzi)
Berdasarkan riwayat Ali bin Abi Thalib, Rasulullah SAW bersabda: “Diangkat pena (tidak dikenakan kewajiban) pada tiga orang: orang yang tidur hingga bangun, anak kecil hingga akil balig (ihtilam), dan orang gila hingga berakal.”(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)
Nabi Muhammd SAW bersabda: “Perjanjian antara kita dan mereka (orang kafir) ialah shalat, maka siapa yang meninggalkannya, ia telah kafir.”(HR. Tirmidzi)
Dari hadits tersebut kita dapat memahami bahwa meninggalkan shalat itu hukumnya dosa, karena pembeda kita (umat Islam) dn orang kafir adalah shalat.
Masih nggak percaya?
Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran dalah meninggalkan shalat.”(HR. Muslim)
Sudah seharusnya sebagai makhluk, kita harus bersyukur, tahu diri siapa kita ini. Bila bukan karena Allah SWT, kita tak akan ada di dunia, bis bernafas, dikasih umur, menikmati keindahan, makan enak, bisa ke sana sini, dan banyak yang lainnya.
Lalu bagaimana caranya kita bersyukur?
Salah satunya yaitu mengerjakan kewajiban kita, shalat, sebagai bentuk rasa syukur supaya terhindar dari kesyirikan dan kekufuran.
Kamu nggak mau kan  dikatakan kafir karena telah melalaikan kewajiban shalat?
Apalagi di cap merusak tiang Agama?
Na’udzubillah..
Kalau kamu masih mengaku sebagai orang beriman, sudah seharusnya dong mendirikan shalat, sebagaimana yang tertulis dalam firman-Nya: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orng yang beriman.” (QS. An Nisa: 103)


source-image :
https://www.google.co.id/search?q=kenapa+harus+shalat&biw=1366&bih=657&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwi9r5PkxcrRAhXIRY8KHfxBCNUQ_AUIBigB#imgrc=k3PrgOFCCzWThM%3A

Ummul mukminin yang paling dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan “Humaira”. Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjaid pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau. [2] Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, “Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))
Ayah ‘Aisyah adalah Abu Bakar ash-Shiddiq bin Abu Quhafah bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay. Ibundanya bernama Ummu Rumman binti ‘Umair bin ‘Amir bin Dahman bin Harist bin Ghanam bin Malik bin Kinanah.[3]
 
Beliau dilahirkan 4 tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus. Ayahnya seorang As-Shiddiq yang banyak menemani perjuangan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunya bernama Ummu Ruman bintu Amir bin Uwaimir.[1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah dua tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar Aisyah menjadi ummul mukminin, tatkala itu Aisyah masih berumur enam tahun. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur sembilan tahun. [2]
Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Abu Dawud: 9435). Kemudian biduk rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia pada tahun 11 H. Sedang Aisyah baru berumur 18 tahun.

Keutamaan ‘Aisyah radi allahu ‘anha

Ummul Mukminin ‘Aisyah memperoleh kedudukan dan cinta Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak didapatkan oleh seorang wanitapun pada zamannya. Cinta Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Aisyah radi allahu ‘anha sangat luar biasa. Bahkan, para sahabat selalu menunggu saat yang tepat untuk memberikan hadiah kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam yaitu pada hari giliran ‘Aisyah radi allahu ‘anha guna mencari keridhaan beliau, karena mereka mengetahui dalamnya cinta Nabi terhadap ‘Aisyah radi allahu ‘anha.[3]

Cinta dan khawatirnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam terhadap ‘Aisyah radi allahu ‘anha, beliau pernah menyuruhnya untuk minta diruqyah dari penyakit ‘ain. [3]

Tidak cukup sampai di situ, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan orang lain agar mencintainya, terkadang beliau tidak marah kalau ‘Aisyah radi allahu ‘anha membela dirinya, terkadang juga ada sebagian madunya yang mempermasalahkan suatu hal kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam namun beliau malah menjadi tidak senang karena ‘Aisyah radi allahu ‘anha disakiti; bahkan Nabi memujinya bahwa tidak pernah wahyu turun ketika beliau berada dalam selimut salah seorang isterinya, kecuali bersama ‘Aisyah radi allahu ‘anha. [3]

Karena amat cintanya, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium ‘Aisyah radi allahu ‘anha saat sedang puasa. Beliau pun membujuknya apabila ‘Aisyah radi allahu ‘anha sedang kesal. Beliau dapat pula menunjukkan tanda-tanda ‘Aisyah radi allahu ‘anha ketika sedang senang dan ketika sedang marah. [3]

Diantara kelembutan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Aisyah radi allahu ‘anha terlihat pada waktu beliau pernah lomba lari dengannya. Selain itu, beliau sering mengajaknya secara khusus untuk menyertainya dalam perjalanan. Perkara yang juga menunjukkan kedudukan mulia ‘Aisyah radi allahu ‘anha dalam diri Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam adalah beliau memulai bertanya kepada isterinya ini tatkala turun ayat takhyiir (tentang pilihan dunia dan akhirat bagi Ummahatul Mukminin) dan memang tepat jawabannya dalam hal itu. [3]

Cukuplah sebagai bukti ketinggian derajat ‘Aisyah radi allahu ‘anha dengan warisan teragung kenabian yang disampaikannya kepada umat Islam. Alhasil, periwayatannya terhadap hadits Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tersebut memenuhi sebagian besar kitab-kitab sunnah jika tidak boleh dikatakan semuanya. Di samping itu, orang-orang yang belajar (menimba ilmu) dari beliau adalah para pembesar sahabat dan tabi’in. para ulama sejak dahulu sampai sekarang berlomba-lomba menulis ilmu dari beliau. Sebagian mereka menulisnya secara tersendiri, baik dalam bidang fiqih, periwayatan hadits, tafsir al-Qur’an, untuaian sya’ir, maupun hari-hari bersejarah bangsa Arab. [3]

Labih dari itu, ‘Aisyah radi allahu ‘anha mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki ummul mukminin lainnya hingga mencapai impat puluh criteria. Cukuplah sebagai sebuah kebanggaan bagi ‘Aisyah radi allahu ‘anha bahwa Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam lebih memilih dirinya untuk tinggal di rumahnya pada waktu sakit (menjelang wafat), serta bersatunya air liurnya dengan air liur beliau. ‘Aisyahlah yang langsung melayani Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam ketika itu, bahkan Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam wafat saat bersandar di dada ‘Aisyah radi allahu ‘anha. Semoga Alloh meridhoi Ummul Mukminin ‘Aisyah beserta seluruh Ummul Mukminin lainnya. [3]

Sifat
Salah satu sifat yang menonjol dari Aisyah adalah Kecerdasannya. Kecerdasannya sudah terlihat sejak kecil, diantaranya:
·        Mampu mengingat dengan baik apa yang terjadi pada masa kecilnya, termasuk hadist-hadist yang didengarnya dari Rasulullah Saw;
·        Mampu memahami, meriwayatkan, menarik kesimpulan serta memberikan penjelasan detail hukum fiqih yang terkandung di dalam hadist;
·        Sering menjelaskan hikmah-hikmah dari peristiwa yang dialaminya pada masa kecil;
·        Mampu mengingat dan memahami rahasia-rahasia hijrah secara terperinci hingga bagian-bagian terkecilnya.

Kesimpulan
Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan “Humaira”. Ayahnya bernama Abu Bakar ash-Shiddiq, sedangkan Ibundanya bernama Ummu Rumman. Ia dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dua tahun sebelum hijrah. Dengan ikatan suci tersebut ia menjadi ummul mukminin.

‘Aisyah memperoleh kedudukan dan cinta Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam juga menganjurkan orang lain agar mencintainya. Karena amat cintanya, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam pernah mencium ‘Aisyah radi allahu ‘anha saat sedang puasa.Ia mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki ummul mukminin lainnya hingga mencapai empat puluh Kriteria yang menjadi sebuah kebanggaan bagi ‘Aisyah radi allahu ‘anha salah satunya adalah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam lebih memilih dirinya untuk tinggal di rumahnya pada waktu sakit (menjelang wafat).

Itulah kilasan kisah dari ibunda kita ‘Aisyah yang sangat dicintai Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga sifat dan keutamaan beliau dijadikan teladan oleh muslimah – muslimah di belahan bumi ini.

Sumber :
1.     https://muslimah.or.id/3906-istri-istri-nabi-shallallahu-alaihi-wa-sallam.html




4.     http://media.zoya.co.id/inspirasi/aisyah-sosok-teladan-muslimah-dunia

    Source-Image :
     http://2.bp.blogspot.com/-Fy-hUQmWZ9o/VZcl14sW_8I/AAAAAAAAACE/gGhs2vOTU0A/s320/11713218_798050646980383_1694813396_o.jpg

SAUDAH BINTI ZAMA’AH

NAMA DAN NASABNYA
Dia adalah ummul mukminin Saudah binti Zama’ah bin Qois bin Abdu Syams bin Abdu Wudd Al-Amiriyyah radhiallahu’anha. Ibunya adalah Syamusy binti Qois bin Zaid An-Najjariiyyah. Dia adalah wainta yang dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepeninggal Khadijah radhiallahu’anha, kemudian menjadi istri satu-satunya bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk berumah tangga dengan Aisyah.[1]

Salah satu Sifat mulia yang juga menonjol darinya adalah kesabaran dan keridhaannya menerima takdir Allah ketika suaminya meninggal, harus kembali ke rumah orang tua yang masih musyrik, hingga Rasulullah memilihnya menjadi istri. Selama berada di tengah-tengah Rasulullah, keimanan dan ketakwaannya bertambah. Dia pun bertambah rajin beribadah.[3]

PERNIKAHANNYA DENGAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Saudah telah menikah dengan Sakran bin Amr Al-Amiry, mereka berdua masuk Islam dan kemudian berhijrah ke Habasyah bersama dengan rombongan sahabat yang lainnya. [1]

Ketika Sakran dan istrinya Saudah tiba dari Habasyah maka Sakran jatuh sakit dan meninggal. Maka jadilah Saudah menjanda. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang Saudah dan diterima oleh Saudah dan menikahlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Saudah pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah. [1]


Keutamaan SAUDAH ra
salah satu keutamaannya yaitu memberikan bagiannya kepada orang yang dikasihi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam(aisyah ra) dalam rangka mendekatkan diri kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebagai bukti cintanya Radhiyallahu anha kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengutamakan kedudukan Aisyah Radhiyallahu anhuma di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bagian (dari ghanimah) kepada para istrinya yang lain, sedangkan Saudah Radhiyallahu anha tidak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri bagian, akan tetapi beliau Radhiyallahu anha ridha dengan hal itu semua. Beliau Radhiyallahu anha lebih mementingkan ridha Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[2]

Ketika Saudah sudah tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat hendak mencerainya, maka Saudah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah janganlah Engkau menceraikanku. Bukanlah aku masih menghendaki laki-laki, tetapi karena aku ingin dibangkitkan dalam keadaan menjadi istrimu, maka tetapkanlah aku menjadi istrimu dan aku berikan hari giliranku kepada Aisyah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan permohonannya dan tetap menjadikannya salah seorang istrinya sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal. [1]
Dalam hal ini turunlah ayat Alquran,

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلاَجُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ اْلأَنفُسُ الشُّحَّ وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi kedauanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisa: 128)

Kesimpulan
bin Qois bin Abdu Syams bin Abdu Wudd Al-Amiriyyah radhiallahu’anha yang memiliki salah satu Sifat mulia yaitu kesabaran dan keridhaannya menerima takdir Allah. Ia telah menikah dengan Sakran bin Amr Al-Amiry Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sakran jatuh sakit dan meninggal ketika Sakran dan Saudah tiba dari Habasyah. Lalu ia menikahlah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah. Salah satu keutamaannya yaitu rela berkorban untuk orang yang dikasihinya yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena menginginkan dibangkitkan dalam keadaan menjadi istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber