latest Post

Sikap Kita Mengenai Gerhana



Sebagai umat muslim, bagamanakah kita harus menyikapi gerhana saat itu terjadi?. Dan ada beberapa mitos terkait gerhana di kalangan masyarakat, lalu seperti apa sikap kita menghadapi peristiwa alam tersebut?. Mari kita simak bersama-sama beberapa hadits yang berhubungan dengan gerhana di bawah ini.

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim no. 901).

Sebagai mana hadits di atas katakan bahwa nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan sholat gerhana dan menyerukan kepada orang-orang untuk melaksanakannya secara berjama’ah.

Dikalangan para ulama sendiri memiliki dua pendapatan. Sebagian ulama mengatakan bahwa sholat gerhana ini hukumnya adalah WAJIB. Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa hukum sholat gerhana adalah Sunnah Mu’akkad (sunnah yang ditekankan untuk dilaksanakan).



Mitos terkait gerhana


Didalam masyarakat sendiri ada beberapa mitos yang dikait-kaitkan dengan peristiwa alam yang jarang terjadi, dan gerhana pun memiliki beberapa mitos yang beredar di masyarakat. Salah satu diantaranya, mengenai kematian dan kelahiran seseorang.

Ketika putra nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Ibrahim meninggal dunia, pada hari itu terjadi gerhana dan nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana disebabkan karena matinya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka dirikanlah shalat dan berdoalah hingga selesai gerhana yang terjadi pada kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 1040).

Sebagaimana hadits diatas katakan, bahwa gerhana matahari ataupun gerhana bulan terjadi bukanlah karena disebabkan oleh suatu kematian atau kelahiran seseorang, melainkan semata karena kehendak Allah Subhannahu wa ta’alla. Kita dianjurkan untuk sholat dan berdoa ketika gerhana hingga gerhana selesai terjadi.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang kurang lebih artinya:

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044)

Gerhana ataupun peristiwa alam lainnya terjadi bukan karena suatu hal lainnya, melainkan adalah kehendak Allah Subhannahu wa ta’alla. Hendaklah kita mengerjakan dan berbuat amal kebaikan sebagaimana rasulullah menyerukan kepada kita untuk mengerjakan amal-amal kebaikan seperti pada hadits di atas.

Untuk waktu sholat gerhana sendiri, para ulama sepakat bahwa sholat gerhana boleh dilakukan di waktu terlarang untuk sholat. Seperti setelah Ashar, kita dilarang untuk mengerjakan sholat hingga matahari tergelincir. Namun, ketika gerhana terjadi pada waktu tersebut kita diperbolehkan untuk mengerjakan sholat gerhana. Sebagaimana disebuah hadits dikatan, bahwa :

”Jika kalian melihat kedua gerhana matahari dan bulan, bersegeralah menunaikan shalat.” (HR. Bukhari no. 1047).

Pada hadits di atas tidak ada batasan waktu untuk sholat gerhana, kita hanya diperintahkan untuk bersegera melakukan sholat gerhana.

About Medinfo UKI Jashtis

Medinfo UKI Jashtis
Recommended Posts × +

0 comments:

Post a Comment