Manajemen Hati

Judul di atas merupakan salah satu bahasan yang dikutip dari sebuah buku yang berjudul Mengelola Hati Menggapai Bisnis yang Selalu Untung, karya M. Khalis Purwanto. Nah, berikut isi dari bahasan tersebut.
“Tidak tumbuh dahan-dahan kehinaan, kecuali dari benih-benih ketamakan”.

Anak-anakku, rakus itu perilaku monyet. Monyet itu memiliki empat tangan. Kedua kakinya berubah fungsi menjadi tangan saat berebut makanan. Kalau perlu mulut yang sudah penuh dengan makanan pun diberdayakan. Tidak ada kamus berbagi di dunia monyet. Adanya berebut sesama teman. Itulah sindiran jika kita rakus di dunia. Kita tidak ada bedanya dengan monyet. Rakus terhadap dunia pasti berujung pada kehinaan. Semua pasti tahu itu. Namun, karena bujuk rayu setanlah perilaku monyet pun sering kita amalkan.
Setan tidak mengenal berhenti berjuang. Perjuangan mereka adalah mengajak kita menjadi keluarganya. Disapanya kita baik-baik agar kita berbalik menyapanya. Ditandanginya kita dengan sopan agar kita juga berlaku sopan kepadanya. Diajarinya kita berontak seakan membela hak, sehingga akhirnya kita senang jadi pemberontak. Kita diajak kuat-kuatan. Kita diajak betah-betahan. Memang harus terus disadari antara kita dan setan adalah musuh bebuyutan.
Pesan guru kita, “Ambilah segala sesuatu seperlunya”. Bukan seinginnya. Seinginnya itu bisikan setan, seperlunya itu ajaran guru. Hal-hal yang sudah tidak kita perlukan pasti ada yang memerlukan. Kita mengulurkan tangan berarti melatih dan mengendalikan keinginan. Banyak di antara mereka yang membutuhkan dan memerlukan, dan tidak berani menginginkan sesuatu. Sementara yang sudah tidak butuh dan tidak perlu masih juga menumpuk keinginan. Mana yang lebih monyet?
“Tiada sesuatu yang menuntunmu seperti angan-angan”
Anak-anakku, mimpi adalah kunci. Segala sesuatu dimulai dari mimpi. Bermimpilah dan capailah mimpimu. Mimpi dan berangan-angan itu beda tipis. Berangan-angan dicela dalam agama, sedang mimpi itu blue print kehidupan. Mimpi adalah blue print tujuan. Bagaimana engkau bisa hidup tanpa tujuan? Jadi, tujuan itu mimpi tematik. Mimpi yang tidak tematik itulah angan-angan. Memang hanya dibalik-balik saja, tapi ikutilah dan rasakan bedanya. Angan-angan itu tumpukan ilusi dan fantasi tanpa arah. Belum sampai dimulai, ilusinya berkembang. Belum sampai ditindaklanjuti, fantasinya melayang. Oleh sebab itu, berangan-angan dilarang karena makan angin. Menikmati bayang-bayang tanpa kenyataan.


Pesan guru kita, “Jadikanlah mimpimu sebagai penyemangat”. Jangan menikmati mimpimu dalam bayang-bayang, tapi laksanakan. Siapa yang berangan-angan dan menikmati angan-angan,  akan tenggelam dalam permainan setan. Tidak melakukan apa-apa, tapi sudah merasakan apa-apa melalui angannya. Orang yang bermimpi dan mulai mewujudkan mimpinya tidak akan berangan-angan. Mereka telah kehabisan stamina untuk karya hingga tidak sempat untuk mengorek angannya.
  
“Engkau jadi merdeka dari segala hal yang engkau lepaskan, dan jadi budak bagi segala hal yang engkau inginkan”.

Anak-anakku, tidak ada enaknya kita disetir. Disetir lebih peyoratif daripada dikuasai. Disetir bermakna tidak ada pilihan kecuali manut. Begitu juga terhadap hasrat. Kita boleh berhasrat; yang tidak dianjurkan adalah hasrat yang dijadikan tujuan. Hasrat itu konkret dan keduniaan. Segala yang bersifat keduniaan pantasnya hanya jadi sarana.
Guru kita berpesan, “Jangan hatimu engkau tambatkan pada dunia”. Engkau akan terperosok ke sumur tanpa dasar. Engkau akan kehilangan hati. Jika hatimu tertinggal di dunia, engkau tidak bisa kembali menuju-Nya.
“Barangsiapa yang tidak mendekat kepada Allah lantaran halusnya kebaikan dari-Nya, maka ia akan dibelenggu oleh rantai-rantai cobaan”.
Anak-anakku, ada orang yang telah diberi hati tetapi masih menginginkan empela. Manusia memang terkadang aneh. Saat diberi tidak dilihat yang diterimanya, namun sisa yang di tangan pemberi yang dipentelengi. Jika sisa yang ada pun diberikan, masih bertanya ada tidak yang lainnya? Saking anehnya, kadang pemberian dilihat sebagai kewajiban si pemberi. Pemberian dipahami sebagai keniscayaan pemberi. Pemberian tidak disambut dengan syukur, namun dianggap sebagai kewajaran. Model-model orang yang begini memang tidak punya pengalaman memberi.
Pesan guru kita, “Jika kita dapat karunia nikmat jangan izinkan karunia itu berubah jadi laknat”. Allah Maha Berkehendak, tinggal pilih kita akan diuji atau diazab?
“Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat, berarti ia menginginkan hilangnya nikmat itu. Barangsiapa yang mensyukurinya berarti ia telah mengikat nikmat itu dengan kuat”.
Anak-anakku, syukur itu istana nikmat. Syukurlah pengikat nikmat. Syukur pula pengembang biak nikmat. Istana yang terawat akan membuat betah penghuninya. Ibarat orang, tentu saja membutuhkan rumah. Kemanapun dia pergi pasti pulang ke rumah. Rumah yang terpelihara akan membuat sehat seluruh keluarga. Apalagi istana. Istana tidak saja tempat beristirahat tapi juga lambang derajat. Siapa pandai bersyukur berarti mengistanakan nikmat. Jika terkesan di istina, maka dia akan datang lagi pada waktu berikutnya.
Pesan guru kita, “Jika engaku tidak bersyukur terhadap nikmat, berarti telah menyia-nyiakannya”. Syukurilah nikmat sekecil apa pun, maka ia akan betah bersamamu. Sikap ini harus dibiasakan. Tanpa pembiasaan apa pun, yang ringan akan terasa berat.
“Takutlah bahwa bila kebaikan Allah selalu engkau peroleh pada saat engkau tetap berbuat maksiat kepada-Nya, itu lambat laun akan menghancurkanmu”. Kami nanti akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui”. (QS. Al-A’raf [7]: 182)
Anak-anakku, tahukah engkau istidraj? Itu istilah langit. Pembiaran perbuatan aniaya hamba hingga terbentur dengan sendirinya. Kasihan memang. Pembiaran yang mencelakakan. Itu rahasia mutlak Allah. Kita sama sekali tidak bisa menduga-duga apa maksud Allah dalam permainan ini. Yang di-istidraj-i tidak juga merasa. Ia mengira pembiaran ini adalah dispensasi. Enak saja dispensasi, memangnya urusan pembayaran SPP? Ketidaktahuan bahwa itu adalah pembiaran karena bebalnya hati. Bebalnya hati bisa karena kotor, mungkin karena sakit. Hati yang kotor atau sakit, sulit membedakan mana yang nikmat dan mana yang laknat.
Allah yang memberi segalanya. Allah juga yang menambah dan menguranginya, atau bahkan menghapusnya. Pemberian Allah murni anugerah. Dia menambah, dan tidak ada yang jatahnya dikurangi. Allah tidak mengenal kuota. Dia mengurangi tanpa bermaksud mengurangi. Dia menghapus tanpa bertujuan menghapus. Maksud dan tujuan Allah itulah misteri, kita sebagai hamba hanya mengamini.
“Di antara kebodohan murid adalah jika ia bertingkah laku buruk dan hukumannya ditangguhkan, maka dia berkata; “Seandainya ini perbuatan buruk pastilah terputus pertolongan dan bahkan dijauhkan dari-Nya”. Padahal bisa jadi pertolongan buatnya telah dihentikan tanpa disadari, sekalipun itu hanya berupa tidak ada tambahan. Boleh jadi juga, tanpa disadari ia telah digeser di kejauhan, sekalipun itu baru berupa terasingnya dan terbengkelai keinginannya”.
“Jika engkau melihat seorang hamba yang ditetapkan oleh Allah dalam menjaga wiridnya dan dilanggengkan-Nya dalam keadaan demikian, namun lama ia tidak mendapat pertolongan-Nya, maka jangan sekali-kali remehkan apa yang Allah berikan kepadanya. Sebab engkau belum bisa mengetahui tanda-tanda orang arif ataupun kegembiraan pecinta Allah pada dirinya. Kalaulah bukan karena karunia ilham, tentu tidak akan wirid”.
Anak-anakku, tahukah engaku apa itu wirid? Kata guru, wirid itu amalan kontinyu. Jika engkau pernah mendengar bahwa wirid itu pengulangan ucapan, itu benar juga. Wirid memang ada dua, tindakan dan ucapan. Engkau pun pasti punya wirid. Sekolah, belajar, berinteraksi, berorganisasi itu semua contoh wiridmu. Kekontinyuan dan niatlah yang menjadi ukuran ibadah. Wiridmu yang rutin dengan niat suci itulah yang akan menghasilkan buah.
Para pejalan makrifat pasti menjaga wiridnya. Berbobotnya wirid para pejalan makrifat karena memang pilihan wiridnya berbobot. Banyak di antara mereka yang sudah berpaling dari dunia. Dunia dianggapnya sebagai hal yang memenjarakan. Mereka ingin menjadi pribadi sekaligus hamba yang bebas. Banyak juga yang memandang dunia sebagai sparing-partner. Dunia adalah lawan latih tanding melawan lawan yang sesungguhnya, yakni hawa nafsunya sendiri.
Setiap wirid diayakini ada bekasnya. Bekas atau tanda itu hanya bisa dilihatnya di kelak kemudian hari. Tiada satu hamba pun yang dapat bocoran bentuknya. Semua adalah hak prerogative Allah. Memang para arif menerangkan bahwa bekas/tanda itu berupa pencerahan. Pencerahan seperti apa? Jangan banyak ditanyakan. Dalam dunia makrifat, tanda ini disebut sebagai warid. Dalam bahasa bumi, antara wirid dan warid ada benang merahnya. Ada hubungan kausalitasnya. Namun itu bahasa bumi kita. Dalam bahasa langit, kita tidak berkewajiban untuk memikirkannya.
“Ada orang-orang yang Allah jadikan berkhidmat kepada-Nya, dan ada orang-orang yang Allah pilih untuk mencintai-Nya, “Kepada setiap golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami berikan bantuan kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidaklah terbatas”. (QS. Al-Isra’ [17]: 20)

0 comments:

Post a Comment