NAMA DAN NASABNYA
Dia adalah ummul mukminin Saudah binti Zama’ah bin Qois bin Abdu Syams bin Abdu Wudd Al-Amiriyyah radhiallahu’anha. Ibunya adalah Syamusy binti Qois bin Zaid An-Najjariiyyah. Dia adalah wainta yang dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepeninggal Khadijah radhiallahu’anha, kemudian menjadi istri satu-satunya bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk berumah tangga dengan Aisyah.[1]

Salah satu Sifat mulia yang juga menonjol darinya adalah kesabaran dan keridhaannya menerima takdir Allah ketika suaminya meninggal, harus kembali ke rumah orang tua yang masih musyrik, hingga Rasulullah memilihnya menjadi istri. Selama berada di tengah-tengah Rasulullah, keimanan dan ketakwaannya bertambah. Dia pun bertambah rajin beribadah.[3]

PERNIKAHANNYA DENGAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Saudah telah menikah dengan Sakran bin Amr Al-Amiry, mereka berdua masuk Islam dan kemudian berhijrah ke Habasyah bersama dengan rombongan sahabat yang lainnya. [1]

Ketika Sakran dan istrinya Saudah tiba dari Habasyah maka Sakran jatuh sakit dan meninggal. Maka jadilah Saudah menjanda. Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminang Saudah dan diterima oleh Saudah dan menikahlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Saudah pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah. [1]


Keutamaan SAUDAH ra
salah satu keutamaannya yaitu memberikan bagiannya kepada orang yang dikasihi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam(aisyah ra) dalam rangka mendekatkan diri kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan sebagai bukti cintanya Radhiyallahu anha kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengutamakan kedudukan Aisyah Radhiyallahu anhuma di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terkadang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bagian (dari ghanimah) kepada para istrinya yang lain, sedangkan Saudah Radhiyallahu anha tidak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri bagian, akan tetapi beliau Radhiyallahu anha ridha dengan hal itu semua. Beliau Radhiyallahu anha lebih mementingkan ridha Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[2]

Ketika Saudah sudah tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat hendak mencerainya, maka Saudah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah janganlah Engkau menceraikanku. Bukanlah aku masih menghendaki laki-laki, tetapi karena aku ingin dibangkitkan dalam keadaan menjadi istrimu, maka tetapkanlah aku menjadi istrimu dan aku berikan hari giliranku kepada Aisyah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan permohonannya dan tetap menjadikannya salah seorang istrinya sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal. [1]
Dalam hal ini turunlah ayat Alquran,

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلاَجُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ اْلأَنفُسُ الشُّحَّ وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi kedauanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik.” (QS. An-Nisa: 128)

Kesimpulan
bin Qois bin Abdu Syams bin Abdu Wudd Al-Amiriyyah radhiallahu’anha yang memiliki salah satu Sifat mulia yaitu kesabaran dan keridhaannya menerima takdir Allah. Ia telah menikah dengan Sakran bin Amr Al-Amiry Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sakran jatuh sakit dan meninggal ketika Sakran dan Saudah tiba dari Habasyah. Lalu ia menikahlah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah. Salah satu keutamaannya yaitu rela berkorban untuk orang yang dikasihinya yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena menginginkan dibangkitkan dalam keadaan menjadi istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sumber


Allah SWT berfirman, “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.’” (QS. Al-Ahzab: 59)
Yang bagaimana sih berhijab itu? Apakah menggunakan hijab dengan model ini-itu seperti yang sudah booming di pasaran sekarang boleh?? Apakah harus panjang?  Tidakkah terkesan seperti ibu-ibu pengajian?
Tiidak wahai ukhti sholiha..
Hijab syari’i tidak akan membuatmu menjadi terkesan seperti ibu-ibu pengajian.  Hijab adalah identitas seorang muslimah. “Seorang muslimah adalah sebutan untuk perempuan-perempuan muslim.” Berhijab adalah salah satu dari kewajiban para muslimah.
“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya(auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (khimar) ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasan(auratnya), kecuali kepada suami mereka. Atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya gar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.”(QS.An-Nur: 31)
Aisyah pernah mengatakan: “Khimar (jilbab) adalah sesuatu yang dapat menyembunyikan kulit dan rambut”.
Fatimah Az Zahra, putri Rasulullah SAW, pernah berpesan kepada Asma’: “Wahai Asma’! sesungguhnya aku memandang buruk perilaku kaum wanita yang memakai pakaian yang dapat menggambarkan tubuhnya.”
Dari keterangan diatas maka bisa kita simpulkan bahwa Berhijab yaitu menutup seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan.  Dan mereka wanita yang berhijab tetapi memakai pakaian ketat hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya, sesungguhnya mereka berpakaian tetapi telanjang.
“Ada dua macam penghuni  neraka yang tak pernah kulihat sebelumnya; sekelompok laki-laki yang memegang cemeti laksana ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang, sesat dan menyesatkan, yang di kepala mereka ada sesuatu mirip punuk unta. Mereka (wanita-wanita seperti ini)  tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium baunya. Sedangkan bau surga itu tercium dari jarak yang jauh.”(HR.Muslim)
Maka dari itu ukhti sholiha, kita dianjurkan menggunakan hijab dengan bahan kain yang tebal, tidak ketat, dan tidak menerawang (tembus pandang) .
“Memakai jins ketat bisa merusak rahim. Maka jagalah rahimmu dengan memakai rok.” (Dr. Dewi inong: Spesialis kulit dan kelamin)
Semoga kita istiqomah dalam berhijab syar’i dan mendapat semua kebaikannya dari Allah.. aamin

source-image :
https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/564x/a4/6f/7e/a46f7efc917165d5582de9048e28a791.jpg

             وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (١٦) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (١٧) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (١٨)
               (16) Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (17) (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. (18) Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (Q.S. Al-Qaf : 16-18)

               Ketika kita melakukan aktifitas sehari-hari, hampir pasti kita melakukan interaksi dengan orang lain. Baik dengan saling berbicara maupun melakukan sebuah aktifitas bersama. Ada kalanya kita melakukan sesuatu dengan spontan tanpa memikirkan baik buruknya dari ucapan atau perilaku kita. Apa yang keluar dari ucapan dan perilaku kita pastinya bermula dari hati kita.
               Allah menjelaskan bahwa Dia telah menciptakan manusia dan berkuasa penuh untuk menghidupkannya kembali pada hari Kiamat dan Ia tahu pula apa yang dibisikkan oleh hatinya, baik kebaikan maupun kejahatan. Bisikan hati ini (dalam Bahasa Arab) dinamakan ḥadiisun nafsi. Bisikan hati tidak dimintai pertanggung jawaban kecuali jika dikatakan atau dilakukan.
               Allah swt lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri. Ibnu Mardawaih telah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Sa’id bahwa Nabi saw bersabda :
“Allah dekat kepada manusia (putra Adam) dalam empat keadaan , Ia lebih dekat kepad manusia daripada urat lehernya, Ia seolah-olah dinding diantara manusia dengan hatinya. Ia memegang setiap binatang pada ubun-ubunnya, dan Ia bersama dengan manusia di mana saja mereka berada.” (Riwayat Ibnu Mardawaih).
               Allah menerangkan bahwa walaupun Ia mengetahui setiap perbuatan hamba-hamba-Nya, namun Ia memerintahkan dua malaikat untuk mencatat segala ucapan dan perbuatan hamba-hamba-Nya, padahal Ia sendiri lebih dekat dari pada urat nadi leher manusia itu sendiri. Malaikat itu ada di sebelah kanan mencatat kebaikan dan yang di sebelah kiri mencatat kejahatan.
“Dan setiap manusia telah Kami kalungkan (catatan) amal perbuatannya di lehernya. Dan pada hari Kiamat Kami keluarkan baginya sebuah kitab dalam keadaan terbuka. ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu’.” (Q.S. Al-Isra : 13-14)
               Al-Hasan al-Basri berkata, “Demi Allah, adil benar Tuhan yang menjadikan diri mu sebagai penghisab atas diri mu sendiri.” Abu Usamah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Malaikat yang mencatat kebajikan memimpin malaikat yang mencatat kejahatan. Jika manusia berbuat kebajikan, malaikat di sebelah kanan itu mencatat sepuluh kebajikan, tetapi jika manusia berbuat suatu kejahatan, ia berkata kepada yang di sebelah kiri, ‘Tunggu dulu tujuh jam, barangkali ia membaca tasbih memohon ampunan’.”
               Hadits itu mengandung hikmah karena adanya malaikat di kanan dan kiri manusia mencatat perbuatannya. Allah tidak menciptakan manusia untuk diazab, akan tetapi untuk dididik dan dibersihkan. Setiap penderitaan itu bertujuan untuk meningkatkan daya tahan dan melatih kesabaran. Setiap benda biasanya lebih banyak mengandung kemanfaatan daripada kemadaratan, dan Allah menciptakan manusia dengan tujuan-tujuan yang mulia bagi manusia sendiri. Kebaikan itu yang pokok, sedangkan kejahatan itu datang kemudian. Benda (materi) pokoknya mengandung kemanfaatan sedangkan madaratnya datang kemudian. Unsur yang empat pun demikian: api, angin, air, dan tanah pokoknya untuk kemanfaatn manusia. Kebakaran, angin topan, banjir, dan gempa bumi datangnya kemudian.
               Itulah mengapa membiasakan diri berucap dan berperilaku baik, karena pada dasarnya hati itu mengarah kepada kebaikan, dan kejahatan itu datang setelah keluar dalam ucapan maupun perilaku kita. Marilah kita menjaga hati, ucapan, dan perilaku kita dengan kebaikan dan membiasakan diri melakukan kebaikan dari hal-hal yang kecil.

source - image : http://www.pirasi.com/wp-content/uploads/2015/08/Malaikat-Pencatat-Amal11.jpg

               
Taukah kamu...?
Ga....
Ya.... sama kamu aja gak tau apalagi penulis (kebalik gak sih ?)
Ok, beberapa pekan lalu kita merayakan hari IBU, nah ada ibu kita yang lain selain ibu kita yang ada di rumah. Pasti gak tau kan ?
Yang pertama :
-        Khadijah binti Khuwailid
-        Saudah binti Zam’ah bin Qois
-        A’isyah binti Abi Bakr As-Shiddiq
-        Hafshah binti Umar bin Khatab
-        Zainab binti Khuzaimah
-        Ummu Salamah, Hindun binti Abi Umayyah
-        Zainab binti Jahsy bin Rabab
-        Juwairiyah binti Al-Harits
-        Ummu Habibah binti Abi Sufyan
-        Shafiyah binti Huyai bin Akhtab
-        Maimunah binti Al-Harits
Ya, nama – nama diatas adalah istri rasulullah .saw yang diberi gelar Ummul mukminin(ibunda orang-orang mukmin).
Kita bahas yang pertama dulu nih yaitu, ibunda kita Khadijah binti Khuwailid. Ibunda kita yang satu ini merupakan istri pertama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. dan selama beliau bersama Khadijah, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpoligami sampai Khadijah meninggal. Dan semua putra Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari pernikahannya dengan Khadijah, termasuk diantaranya Fatimah istri Ali bin Abi Thalib, putri bungsu dari Khadijah. Kecuali satu, Ibrahim. Ibrahim berasal dari ibu Mariyah Al-Qibthiyah.[1]

Pada usia 40 Khadijah binti Khuwailid dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia adalah seorang sudagar cantik yang terpelihara perkataannya, ahklaqnya maupun perbuatannya. Samapai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memujinya dalam sebuah hadits:
“Cukup bagimu 4 wanita pemimpin dunia: Maryam binti Imran (Ibunda nabi Isa), Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah Istri Fir’aun”. (HR. Ahmad 12391, Turmudzi 3878, dan sanadnya dishahihkan Syuaib Al-Arnauth)

Sebelum  menjadi  istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  ia seorang sudagar lahir di Mekkah tahun 68 sebelum Hijrah, 15 tahun sebelum tahun gajah atau lima belas tahun sebelum kelahiran Rasulullah saw. Ia memiliki nasab yang suci, luhur dan mulia laksana untaian mutiara yang berkilauan. Beliau dididik oleh orang tuanya sendiri sebagai sosok yang santun dan tidak sombong akan kebangsawanannya, selalu menjaga martabat dan kesucian dirinya sehingga beliau mendapatkan gelar Ath Thahirah (perempuan suci).[2]

Ayahnya, Khuwalid bin Asad, adalah tokoh pembesar Quraisy yang terkenal hartawan dan dermawan. Khuwalid sangat mencintai keluarga dan kaumnya, menghormati tamu dan memberdayakan orang miskin. Ia termasuk sahabat Abdul Muthalib, kakek Muhammad saw. Ayah Khadijah juga merupakan delegasi Quraisy yang pernah di utus ke Yaman untuk memberi ucapan selamat kepada Rajanya yang berbangsa Arab yaitu Saif bin Dziyazin, atas keberhasilannya mengusir bangsa Abbessinia dari negerinya. Peristiwa ini terjadi dua tahun sesudah peyerangan Mekkah pada tahun gajah.[2]
Dari sejarah tersebut kita dapat melihat bahwa Khadijah ra adalah perempuan baik dari keturunan yang baik, bahkan ia mendapat gelar Ath Thahirah (perempuan suci).

Keistimewaan dan keteladanan terindah seorang Khadijah [3] :
·        Wanita yang terlahir dari keluarga kaya, tetapi tidak sombong, berakhlak mulia, sederhana dan  rendah hati .
·        Cerdas, tangguh, mandiri pekerja keras  yang sukses menjalankan bisnisnya, dan menjadi wanita terkaya di  jamannya, sehingga mendapat gelar “Ratu Quraish” dan “Ratu Makkah”.
·        Seorang Bos yang arif bijaksana, ketika memilih karyawan bukan keahlian dan pengalaman yang menjadi syarat, namun  akhlak yang baik
·        Seorang wanita yang menjaga kesuciannya, sehingga para lelaki Arab yang terkenal angkuh pun menjulukinya sebagai “At Thahirah “
·        Biasanya semakin kaya seseorang, semakin silau pada harta, tapi tidak demikian dengan Khadijah, dia menolak banyak cinta  lelaki Arab kaya dan para bangsawan yang melamarnya
·        Seorang wanita yang dengan kesederhanaannya, lebih memilih laki-laki muda sederhana  beraklhlak mulia yang usianya terpaut 15 tahun lebih muda darinya.
·        Seorang wanita yang jujur dan berani berterus terang tentang perasaannya terhadap seorang laki-laki yang diyakininya akan menjadi jodoh yang barokah baginya
·        Khadijah orang pertama yang memantapkan diri memeluk Islam ketika tak ada seorangpun yang percaya pada dakwah pertama Nabi  SAW,
·        Khadijah wanita pertama yang membantu perjuangan  Nabi dengan segenap cinta, jiwa, raga dan hartanya
·        Khadijah adalah  pendamping yang sangat setia, oase penyejuk gundah Nabi SAW  , penyangga jiwa  ketika  mulai melemah, memberi Nabi  kekuatan dan dukungan saat dakwahnya mengalami jalan buntu.
·        Khadijah adalah isteri dimuliakan suami karena ketaatannya,kepatuhannya dan ketakdzimannya  pada suami
·        Khadijah wanita yang sangat dicintai  Nabi ,  walau jarak usia terpaut 15 tahun, namun tak sedikitpun mengurangi rasa sayangnya.  Hingga beliau enggan berbagi hati dengan yang lain sebelum Khadijah wafat.
·        Khadijah adalah cinta sejati Nabi yang tak akan pernah terganti


Ya, itu adalah ulasan singkat mengenai ibunda kita khadijah Ra. Seorang perempuan yang banyak ke istimewaannya. Seorang perempuan teladan umat islam. Seseorang yang paling nabi cintai. Semoga allah moridhoinya.

sumber
3.      http://lantabur.tv/2016/09/16/khadijah-teladan-terindah/



source image :
http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/1221166/big/087049300_1462168336-DOA_IBU.jpg 




Dari Abu Ummah RA, dia berkata, aku pernah mendengar Nabi Muhammad SAW bersabda: “Bacalah Al-Qur’an karena pada hari kiamat, ia akan datang dengan memberi syafaat kepada pemilik (pembacanya),al-hadist.”(HR.Muslim)
Dari hadits di atas maka bisa kita simpulkan bahwa Al-Qur’an nanti  dihari kiamat akan menjadi penolong bagi orang-orang yang membaca, mempelajari maupun bagi yang menghafalnya.
Nah, gimana dengan Al-Qur’an kamu? Apakah masih tersimpan rapi di lemari buku atau sudah berdebu? Na’udzubillahimindzalik, semoga kita bukan tergolong orang-orang lalai tersebut.
Menurut penelitian Dr. Al Qadhi, di Klinik Besar Florida Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an, seorang muslim dapat merasakan perubahan fisiologis yang sangat besar.
Penurunan depresi, kesedihan, memperoleh ketenangan jiwa, menangkal berbagai macam penyakit. Penemuan sang dokter ahli jiwa ini tidak sembarangan. Penelitiannya ditunjang dengan bantuan peralatan elektronik terbaru untuk mendeteksi tekanan darah, detak jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap listrik.
Dari hasil uji cobanya ia berkesimpulan. Bacaan Al-Qur’an berpengaruh besar hingga 97% dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Dengan begitu, kamu harus rajin membaca Al-Qur’an agar hati senantiasa lebih bahagia, damai, dan mudah mengendalikan emosi. Dengan kamu lebih tenang dan tidak mudah stres, otomatis penyakit-penyakit yang ditimbulkan seperti jerawat, keriput, juga akan lebih diminimalisir.
Dari Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan. Sedang satu kebaikan, dilipatgandakan sepuluh kalinya. Dan tidaklah aku mengucapkan Alif Laam Miim itu, satu huruf, tetapi aku mengatakan Alif, satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf juga.”(HR.Tirmidzi)
Apa saja sih kewajban kita seorang muslim terhadap Al-Qur’an?
  1. Membacanya setiap hari  dengan menggunakan cara baca yang baik (tartil).
  2. Berusaha agar dapat menikmati dan terkesan dengan Al-Qur’an.
  3. Merenungkan setiap makna yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
  4. Menghafalnya dan menjaganya (hafalannya).
  5. Mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.
Rasulullah bersabda: “Perumpamaan orang beriman yang membaca Alquran seperti buah utrujah; aromanya wangi dan rasanya lezat, perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Alquran itu seperti kurma; tidak beraroma tapi rasanya manis. Perumpamaan orang munafik yang membaca Alquran itu seperti buah raihanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Alquran seperti buah handhalah (semacam labu) ; tidak beraroma dan rasanya pahit.” (HR Bukhari dan Muslim).
Kaum muslim yang sudah menghafal Al-Qur’an tentu saja telah diberikan anugerah berupa ilmu. Bahkan karena hal tersebut para penghafal Al-Qur’an telah dianggap sebagai keluarga Allah di bumi. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW. 
Dalam sebuah hadist disebutkan; “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri daripada manusia..." Kemudian Anas berkata lagi, “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “yaitu ahli Qur’an (orang yang membaca atau menghafal Qur'an dan mengamalkannya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.” (HR. Ahmad)
Apalagi yang kamu tunggu? Hadiah terbesar dari Allah sudah lama menunggumu untuk kamu amalkan..

Source-image:
- http://islamidia.com/wp-content/uploads/2016/06/4-Tingkatan-Nama-Manusia-yang-Dijelaskan-Dalam-al-Quran.jpg


Jika Teman Baik Kita Tidak Balas Budi.


Allah menciptakan para setiap hamba agar selalu mengingat-Nya, dan Dia menganugerahkan rezeki kepada setiap makhluk ciptaan_Nya agar mereka bersyukur kepada-Nya. Namun, mereka justru banyak yang menyembah dan bersyukur kepada selain Dia.


Tabiat untuk mengingkari, membangkang, dan meremehkan suatu kenikmatan adalah penyakit yang umum menimpa jiwa manusa. Karena itu, Anda tak perlu heran dan resah bila mendapatkan mereka mengingkari kebaikan yang pernah Anda berikan, mencampakkan budi baik yang telah Anda tunjukkan. Lupakan saja bakti yang telah Anda persembahkan. Bahkan, tak usah resah bila mereka sampai memusuhi Anda dengan sangat keji dan membenci Anda sampai mendarah daging, sebab semua itu mereka lakukan adalah justru karena Anda telah berbuat baik kepada mereka.


{Dan, mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka.} (QS. At-taubah:74)


Coba Anda buka kembali catatan dunia tentang perjalanan hidup ini! Dalam salah satu babnya diceritakan: shajdan, seorang ayah telah memelihara anaknya dengan baik. Ia memberinya makan, pakaian dan minuman, pendidikannya hingga menjadi orang pandai, rela tidak tidur demi anaknya, rela untuk tidak makan asal anaknya kenyang, dan bahkan, mau bersusah payah agar anaknya bahagia. Namun apa lacur, ketika sudah berkumis lebat dan kuat tulang-tulangnya, anak itu bagaikan anjing galak yang selalu menggonggong kepada orang tuanya. Ia tak hanya berani menghina, tetapi juga melecehkan, acuh tak acuh, congkak, dan durhaka terhadap orang tuanya. Dan semua itu, ia tunjukkan dengan perkataan dan juga tindakan.


Karena itu, siapa saja yang kebaikannya diabaikan dan dilecehkan oleh orang-orang yang menyalahi fitrah, sudah seyogyanya menghadapi semua itu dengan kepala dingin. Dan, ketenangan seperti itu akan mendapatkan balasan pahala dari Dzat Yang perbendaharaan-Nya tidak pernah habis dan sirna.


Ajakan ini bukan untuk menyuruh Anda meninggalkan kebaikan yang telah Anda lakukan selama ini, atau agar Anda sama sekali tidak berbuat baik kepada orang lain. Ajakan ini hanya ingin agar Anda tak goyah dan terpengaruh sedikitnya oleh kekejian dan pengingkaran mereka atas semua kebaikan yang telah Anda perbuat. Dan janganlah Anda pernah bersedih dengan apa saja yang mereka perbuat.


Berbuatlah kebaikan hanya demi Allah semata, maka Anda akan menguasai keadaan, tak akan pernah terusik oleh kebencian mereka, dan tidak pernah merasa terancam oleh perlakuan keji mereka. Anda harus bersyukur kepada Allah karena dapat berbuat baik ketika orang-orang di sekitar Anda berbuat jahat. Dan, ketahuilah bahwa tangan di atas itu lebih baik dari tangan yang di bawah.


{Sesunggunya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengarapkan keridhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.} (QS. Al-Insan :9)


Masih banyak orang berakal yang sering hilang kendali dan menjadi kacau pikirannya saat mengadapi kritikan atau cercaan pedas dari orang-orang sekitarnya. Terkesan, mereka seolah-olah belum pernah mendengar wahyu Illahi yang menjelaskan dengan gamblang tentang perilaku golongan manusia yang selalu mengingkari Allah. Dalam wahyu itu dikatakan :


{Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitu orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.} (QS. Yunus:12)


Anda tak pernah terkejut menakala menghadiahkan sebatang pena kepada orang bebal, lalu ia memakai pena itu untuk menulis cemoohan kepada Anda. Dan Anda tak usah kaget, bila orang yang Anda beri tongkat untuk mengiringi domba gembalaannya justru memukulkan tongkat itu ke kepala Anda. Itu semua adalah watak dasar manusia yang selalu mengingkari dan tak pernah bersyukur kepada Penciptanya sendiri Yang Maha Agung nan Mulia. Begitulah, kepada Tuhannya saja mereka berani membangkang dan mengingkari, maka apalagi kepada saya dan Anda.

Sumber :
Syaikh Dr. ‘Aidh Abdullah Al Qarni